Berita Pati
Kisah Mbah Wardi di Pati, 10 Tahun Tinggal di Gubuk Reyot Berdinding Spanduk Kampanye Politik
Mbah Wardi (68) bersyukur, gubuk reyot di Desa Mojo RT 5 RW 4, Kecamatan Cluwak, yang ia tinggali selama ini akan segera digantikan dengan rumah perma
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: m nur huda
TRIBUNJATENG.COM, PATI – Mbah Wardi (68) bersyukur, gubuk reyot di Desa Mojo RT 5 RW 4, Kecamatan Cluwak, yang ia tinggali selama ini akan segera digantikan dengan rumah permanen.
Hari ini, Sabtu (22/2/2020), ia menerima bantuan bedah rumah dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Pati.
Bantuan dari Baznas Pati nilainya Rp 8 juta. Nilai sedemikian mungkin belum cukup untuk membangunkan rumah layak huni bagi Mbah Wardi.
Namun, yang perlu diketahui, Baznas Pati juga telah berkoordinasi dengan sejumlah komunitas sosial di Pati, dua di antaranya Komunitas Wong Cluwak dan Komunitas Sedekah Lancar Selawase (Selawe).
Komunitas-komunitas tersebut juga akan berkontribusi, bergotong-royong membangunkan tempat berteduh yang layak bagi Mbah Wardi, lansia yang sehari-hari mencari nafkah sebagai pemulung.
Untuk diketahui, selama sepuluh tahun terakhir, Mbah Wardi tinggal sebatang kara di sebuah gubuk yang kondisinya sangat jauh dari kata layak.
Gubuk tersebut berlantai tanah, berangka bambu, beratap seng dan terpal, serta berdinding spanduk plastik (MMT) bekas.
Di antara spanduk-spanduk yang dijadikan dinding gubuk berukuran sekira 3 x 3 meter tersebut, terdapat pula spanduk kampanye politik.
Di dalam gubuk yang dikelilingi hutan dan kebun sengon inilah Mbah Wardi melepas lelah sepulang memulung.
“Dulu adik perempuan dan tetangga saya yang membangunkan gubuk ini. Kalau hujan bocor. Kasur saya sampai busuk dan saya buang. Kalau hujan, saya tidur di teras rumah ‘bolo-bolo’ (teman-teman/tetangga).
Kalau ada tetangga minta saya tidur di dalam rumah mereka, saya memang tidak mau.
Karena, gimana ya, saya orang seperti ini kok tidur di rumah bagus-bagus. Saya tidur ya tinggal merem,” ujar dia.
Di samping gubuk Mbah Wardi, terdapat bilik berdinding kain yang digunakan Mbah Wardi untuk mandi dan mencuci pakaian.
“Airnya saya ambil dari sumur tetangga. Kalau buang air saya menumpang di rumah keponakan,” ungkap dia.
Mbah Wardi mengatakan, sehari-hari ia memulung.