Berita Jateng
Ada Tempat Ibadah Tak Ramah Difabel, Ganjar Pranowo Minta Ada Penerjemah Ceramah Tunarungu
Ganjar Pranowo menyatakan anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan lebih banyak fasilitas, tidak hanya di sarana pendidikan, juga di tempat ibadah.
Penulis: mamdukh adi priyanto | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pada saat pembukaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Daerah (Musrenbang) Provinsi Jawa Tengah di Semarang baru-baru ini, kalangan difabel menggugat.
Di antaranya Didik Sugiyanto, difabel asal Kota Semarang yang menyatakan kurangnya aksesbilitas di tempat ibadah yang masih terabaikan.
Sebab mereka butuh fasilitas selama mereka beribadah.
• Kisah Sedih Bayi Tsamara di Sragen, Jarinya Terancam Diamputasi Setelah Digigit Kutu Kucing
• BREAKING NEWS: Puting Beliung Terjang 5 Rumah dan SPBU Ngampin di Ambarawa Semarang
• Terminal Terboyo Semarang Segera Difungsikan, Truk Dilarang Parkir dan Bongkar Muat di Tepi Jalan
• Bus Rombongan Pelajar SMK Muhammadiyah 1 Gondangrejo Karanganyar Kecelakaan, 2 Meninggal
Penganut agama Islam ini mengaku kesulitan saat ibadah di masjid karena ketiadaan fasilitas disabilitas.
Contohnya saat salat Jumat, Didik yang merupakan tuna daksa harus salat di teras masjid, atau di parkiran.
Teman tuna rungunya pun hanya datang tanpa bisa mendengar khotbah.
Hal senada juga diungkapkan seorang difabel yang meminta ada bantuan untuk penderita tuna rungu-wicara saat dialog Perwakilan Khusus Sekjen PBB di Wisma Perdamaian Semarang, Jumat (6/3/2020).
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyatakan anak-anak berkebutuhan khusus membutuhkan lebih banyak fasilitas, tidak hanya di sarana pendidikan, tetapi juga di tempat ibadah.
"Mereka menyampaikan tempat ibadah juga penting."
"Karena itu, di masjid, gereja, klenteng yang ada ceramahnya, mereka butuh interpreter agar mereka paham penjelasannya," kata Ganjar, Minggu (8/3/2020).
Interpreter atau penerjemah bahasa isyarat bisa direalisasikan di setiap upacara keagamaan yang ada ceramahnya.
"Jemaah bisa ditanya dulu, apakah ada yang membutuhkan (interpreter) atau tidak, kalau ada, saya kira itu wajib menghadirkan," tandasnya.
Programkan Pendidikan Guru Berkebutuhan Khusus
Gubernur menyampaikan sudah berbicara dengan Rektor Universitas Sebelas Maret atau UNS, Prof Jamal Wiwoho terkait guru atau penerjemah bahasa isyarat.
Hingga saat ini, kata dia, UNS yang masih menjalankan program pendidikan guru berkebutuhan khusus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ganjar-ingin-tempat-ibadah-hadirkan-ceramah-ramah-difabel.jpg)