Berita Semarang
Sudaryo Warga Semarang Budidayakan Sawo Meksiko, Ada Calon Pembeli dari Maroko
Sudaryo warga Ngaliyan Semarang membudidayakan sawo meksiko di dua kebun miliknya
Penulis: Dhian Adi Putranto | Editor: abduh imanulhaq
Ia mulai membudidayakannya pada 2010 atau 10 tahun sillam.
Biasanya Daryo menggunakan tiga cara dalam membudidayakan sawo meksiko itu, yakni cangkok, okulasi (menyambung), dan penyemaian biji.
Dia lebih sering menggunakan teknik cangkok dan okulasi.
Pasalnya, tanaman tersebut dapat tumbuh dan berbuah lebih cepat.
"Cangkok dan okulasi saat prosesnya hingga siap tanam membutuhkan waktu enam bulan sampai satu tahun.
Saat proses itu membutuhkan perhatian yang cukup ekstra.
Kalau jika sudah siap tanam maka pohon hanya butuh waktu 2-3 tahun agar dapat berbuah," tuturnya.
Adapun benih yang berasal dari biji bisa membutuhkan waktu sekitar 8-10 tahun agar siap berbuah.
Daryo mengatakan mamey sapote tergolong tanaman yang langka di Indonesia.
Tanaman ini bukan tanaman asli Indonesia dan tidak banyak yang melakukan budidaya.
Di sisi lain, tanaman ini menjadi buruan bagi para kolektor tanaman langka.
Tak sedikit kolektor yang singgah di rumahnya membuktikan keberadaan sawo meksiko.
Alhasil saat kolektor tanaman itu datang, mereka langsung memesan langsung pohon sawonya itu.
"Harga pohonnya dari 1,5 juta rupiah sampai 15 juta rupiah. Tergantung ukuran.
Buahnya saja dijual per buah bisa sampai 350 ribu rupiah," terangnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/sawo-meksiko.jpg)