Wabah Virus Corona
Getaran Muka Bumi Berkurang karena Corona Sebulan Ini, Gempa Makin Mudah Terdeteksi
Getaran Muka Bumi berkurang karena pandemi corona dalam satu bulan ini. Para peneliti makin mudah mendeteksi gempa bumi yang gelombangnya kian jelas.
Getaran Muka Bumi berkurang karena pandemi corona dalam satu bulan ini. Para peneliti makin mudah mendeteksi gempa bumi yang gelombangnya kian jelas.
TRIBUNJATENG.COM - Para ahli kembali menemukan sisi positif dari pandemi virus corona atau Covid-19.
Selain mengurangi penolakan terhadap vaksin dan menurunkan polusi udara global, pandemi ini ternyata juga mengurangi getaran di muka bumi.
Dilansir dari CNN, Jumat (3/4/2020); para pakar seismologi di seluruh dunia mendapati adanya pengurangan kebisingan seismik (seismic noise) selama sebulan terakhir ini.
Kebisingan seismik, dijelaskan oleh Kepala Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono, disebabkan oleh getaran-getaran kecil (mikroseismik) artifisial yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, seperti aktivitas pabrik dan kendaraan.
• Satu PDP Corona Usia 39 Tahun Asal Adiwerna Tegal Meninggal Dunia, Ada Riwayat dari Bali
• Satu Pasien Positif Corona Asal Pati Dirawat di RSUD Moewardi Solo, 2 PDP di Pati dan Semarang
• Update Corona 4 April 2020 Indonesia: Pasien Positif Tembus 2.092 Orang, 191 Meninggal
• Dinkes Kebumen: Masyakarat yang Positif Corona dari Rapid Test Jangan Panik, Masih Ada Uji Swab
Nah, berkat adanya kebijakan social distancing untuk menekan penyebaran virus corona, getaran-getaran kecil artifisial di muka bumi ini pun berkurang dan kebisingan seismik menurun.
Dari Belgia sampai Indonesia
Berkurangnya kebisingan seismik ini pertama kali dibahas oleh Thomas Lecocq, seorang pakar geologi dan seismologi dari Observatorium Royal di Belgia.
Lecocq berkata bahwa sejak diterapkannya social distancing dengan menutup sekolah dan usaha di Belgia pada pertengahan Maret, kebisingan seismik di Brussel mengalami penurunan sebanyak 30-50 persen.
Tingkat kebisingan ini setara dengan apa yang biasa ditemukan oleh para pakar seismologi pada hari natal.
Berkat pengurangan kebisingan ini, Lecocq dan para pakar seismologi di Belgia menjadi lebih mampu mendeteksi gempa atau kejadian seismik kecil yang biasanya tidak terdeteksi di stasiun-stasiun seismik tertentu.
Stasiun seismik di Brussel, misalnya. Lecocq berkata bahwa pada hari biasa, stasiun yang dibangun lebih dari seabad lalu di tengah kota ini nyaris tak berguna karena terganggu oleh kebisingan yang diakibatkan oleh aktivitas manusia.
Para pakar Belgia bahkan harus mengandalkan stasiun lain yang memanfaatkan pipa di bawah tanah untuk memonitor aktivitas seismik di area Brussel.
Namun, Lecocq kini menilai bahwa untuk saat ini, stasiun seismik Brussel hampir sama baiknya dengan stasiun yang menggunakan pipa bawah tanah.
Efek ini juga dirasakan oleh pakar seismologi Paula Koelemijer di London, Inggris, Celeste Labedz di Los Angeles, Amerika Serikat dan BMKG di Indonesia.
Diwawancarai oleh Kompas.com via pesan singkat, Sabtu (4/4/2020); Daryono berkata bahwa seismik yang bersumber dari aktivitas manusia memang didapati berkurang karena banyak kota besar yang penduduknya mengurangi aktvitas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-permukaan-bumi.jpg)