Senin, 20 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

FOKUS : Desa Wisata di Tengah Corona

Mas Karjo sedang mbakar jadah dan tempe bacem saat Timbul datang ke angkringan milik Mas Karjo yang ada di seberang jalan balai desa

Penulis: rika irawati | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/grafis/bram
RIKA IRAWATI wartawan Tribun Jateng 

Oleh Rika Irawati

Wartawan Tribun Jateng

Mas Karjo sedang mbakar jadah dan tempe bacem saat Timbul datang ke angkringan milik Mas Karjo yang ada di seberang jalan balai desa, Sabtu malam. Namun, alih-alih menanyakan menu pesanan, Mas Karjo malah melarang Timbul yang celingak-celinguk mencari kursi plastik, duduk.

"Nggak usah duduk, antar dulu jadah bakar tempe bacem ini ke rumah Pak Edy. Sekalian, tolong ambilkan lima racikan wedang uwuhnya. Pak Edy sekeluarga pengin stay at home sambil menikmati menu desa," kata Mas Karjo memerintah.

"Mesti sampeyan sengaja ndelikne kursi plastik to, Mas? Kenapa sih sekarang nggak bawa dingklik dan tikar? Kursi plastik juga cuma tiga," sahut Timbul yang tak menolak perintah Mas Karjo tetapi juga tak mengiyakan.

"Lha aku kan mematuhi imbauan pemerintah, selama wabah corona, kita harus jaga jarak fisik. Physical distancing," jawab Mas Karjo sambil menyerahkan tas berisi pesanan Pak Edy yang siap diantar.

Sekitar 10 menit , Timbul yang datang dari rumah Pak Edy, kembali nggresula karena Mas Karjo menolak membuatkan susu jahe panas kesukaannya.

Mas Karjo yang asyik melakukan panggilan video dengan Pak RT dan dua anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)desa, malah meminta Timbul meracik sendiri pesanannya.

"Meski tidak boleh berkerumun, diskusi itu harus tetap jalan buat mengasah pikiran dan mencari solusi kalau ada masalah. Nongkrong virtual," kata Mas Karjo seusai mengakhiri diskusi daringnya.

Meski tak diminta, Mas Karjo menceritakan keresahan Pak RT dan dua anggota Pokdarwis tersebut akan sepinya kunjungan wisatawan sejak wabah corona melanda Indonesia.

Maklum, meski berada di kaki gunung dan memiliki tanah subur, tak banyak warga desa yang memiliki lahan pertanian. Mayoritas dari mereka berwirausaha.

Bahkan, sejak pemerintah gandrung dengan wisata dan mengenjot lahirnya destinasi wisata baru, warga desa ini mulai menyulap lahan yang ada sebagai tempat wisata foto, arung jeram, atau tanam sayur. Ada juga yang membuka homestay dan rumah makan.

Namun, sejak pemerintah mengimbau dan mengkampanyekan gerakan tinggal di rumah, kunjungan wisatawan merosot drastis. Bahkan, pemesanan tempat yang dilakukan hingga Lebaran nanti pun dibatalkan. Hampir semua rumah makan merumahkan pegawainya tanpa kompensasi dan hanya janji akan dipanggil lagi saat situasi sudah membaik.

Kondisi ini, tentu tak hanya terjadi di desa Mas Karjo. Hampir semua desa wisata di Jawa Tengah mengalami hal sama. Menurut Data Pemprov Jateng, pada 2019, ada 229 desa wisata yang mengembangkan wilayahnya sebagai tujuan wisata. Banyak warga yang menggantungkan hidup dari sektor ini lantaran tingkat kunjungan wisatawan lokal termasuk tinggi.

Namun, dalam kondisi seperti ini, tentu warga sangat terdampak. Bukan hanya mereka yang berstatus sebagai pekerja tetapi juga mereka yang memiliki modal.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved