Ramadhan 2020
Ini Hukum dan Sanksi Suami Istri Bersetubuh di Bulan Puasa Ramadhan Siang Hari
Simak hukum dan sanksi bersetubuh di bulan puasa Ramadhan siang hari bagi suami istri.
Penulis: Fajar Bahruddin Achmad | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM - Simak hukum dan sanksi bersetubuh di bulan puasa Ramadhan siang hari bagi suami istri.
Diketahui pada saat Ramadhan, seorang muslim diwajibkan menunaikan puasa selama satu bulan penuh.
Pahala seorang muslim akan dilipatgandakan oleh Allah SWT ketika itu.
Di antara manfaat puasa adalah upaya untuk mengendalikan syahwat.
• Ini Penjelasan Imam Syafii Melarang Terlalu Kenyang Saat Buka Puasa Ramadhan
• Cabut Gigi Saat Puasa Ramadhan, Batal Tidak?
• Kumpulan Doa Puasa Ramadhan, Doa Buka Puasa hingga Niat Sholat Tarawih dan Witir
• Mana yang Harus Didahulukan, Sahur Atau Mandi Junub Dulu Saat Bulan Ramadhan?
Mengontrol syahwat pun berlaku bagi suami istri yang sedang berpuasa.
Apakah Anda tahu hukum dan sanksi suami istri yang bersetubuh saat berpuasa?
Berikut uraiannya berdasarkan Hadits Nabi:
Abu Syuja penulis kitab Taqrib (al-Ghayah wa at-Taqrib), menjelaskan:
"Barangsiapa yang melakukan hubungan seks di siang hari Ramadhan secara sengaja di kemaluan, maka ia punya kewajiban menunaikan qodho dan kafarah. Bentuk kafarah-nya adalah memerdekakan satu orang budak beriman. Jika tidak didapati, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan kepada 60 orang miskin yaitu sebesar 1 mud.”
Hadits dari Abu Hurairah.
بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ . قَالَ « مَا لَكَ » . قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى وَأَنَا صَائِمٌ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا » . قَالَ لاَ . قَالَ « فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ » . قَالَ لاَ . فَقَالَ « فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا » . قَالَ لاَ . قَالَ فَمَكَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِىَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ – وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ – قَالَ « أَيْنَ السَّائِلُ » . فَقَالَ أَنَا . قَالَ « خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ » . فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا – يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ – أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى ، فَضَحِكَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ « أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ »
Artinya: "Suatu hari kami pernah duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap Nabi.
Lalu pria tersebut mengatakan, 'Wahai Rasulullah, celaka aku.'
Nabi berkata, 'Apa yang terjadi padamu?'
Pria tadi lantas menjawab, 'Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.'
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/bersetubuh-siang-hari-saat-puasa-ramadhan.jpg)