Mutiara Ramadhan
Cara Melindungi Amal Ibadah di Era Medsos dan Melacak Jebakan Iblis di Bulan Ramadhan
Dalam hal ibadah, siapapun akan bisa memfungsikan medsos sebagai penopang prestasi ibadah, atau sebaliknya juga bisa terpeleset kepada kenistaan
Oleh Dr KH Nasrulloh Afandi, Lc, MA
Wakil Katib PWNU Jateng
Alhamdulillah, kita kembali diberi nikmat oleh Allah SWT bertemu dengan bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan di Indonesia latah disebut “Bulan suci”, namun dalam kesuciannya itu, dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, seiring munculnya beragam media sosial, juga banyak krimilanitas.
Dalam hal ibadah, siapapun akan bisa memfungsikan medsos sebagai penopang prestasi ibadah, atau sebaliknya juga bisa terpeleset kepada kenistaan.
Ada juga yang terjerumus pada sum'ah karena cari popularitas, pencitraan sosial (riya) melalui medsos, atau berbangga diri (ujub). Tujuan-tujuan sempit itu bisa menjangkiti siapapun, bukan hanya politikus atau pebisnis bahkan pemuka agama juga bisa terjerumus.
Mempublikasikan beragam aktivitas ibadah atau kebajikan di ruang media sosial, memang satu sisi ada unsur positifnya, akan bisa menjadi bagian dakwah, syiar dan memberi inspirasi. Bisa saja publikasi dilakukan oleh lembaga dakwa atau organisasi keislaman dengan syarat bertujuan memotivasi publik untuk melakukan amal kebaikan.
• Update Corona 27 April di Dunia: Jumlah Masih Terus Tambah, Kini Tembus 2.994.761 Kasus
• 5 Berita Populer: Ganjar Terima Usulan PSBB hingga Betrand Peto Larang Ruben Onsu Jual Apartemen
• LIPUTAN KHUSUS: Pengakuan Mantan Napi Seusai Bebas Program Asimilasi hingga Warga Takut Berulah Lagi
• TAHUKAH ANDA! Inilah 15 Aturan Rahasia yang Harus Dipatuhi Pramugari dan Pilot, Termasuk Tidur
Melindungi Amal Ibadah di Era Medsos
Ramadhan bagi umat muslim menadi istimewa sebagai bentuk gegap gempita kesalehan di seluruh dunia. Media nasional hingga internasional menayangkan untuk rating medianya. Hal ini, rawan mengakibatkan setiap individu muslimin “terpancing” mengekspose segala amal ibadah pribadinya.
Solusi hal diatas, dalam geliat sosial masyarakat, untuk melindungi kesalehan berskala massal, sedikitnya ada dua macam rumus untuk modal kesalehan, agar individu muslim tidak tejerumus mempublikasikan di ruang terbuka media sosial.
Pertama, merahasiakan amal baik vertikal (hablum minalloh) Kebajikan atau amal yang berhubungan antara manusia dengan Allah SWT. Skandalnya dalam hal ini, seperti; posting “alhamdulillah puasa hari ini lancar, alhamdulillah hari ini meski panas haus masih bisa baca al-Quran”, dan sejenisnya.
Kedua, merahasiakan amal baik horizontal (hablum minannas) Kebajikan yang berhubungan manusia dengan sesama manusia.
Salah kaprah dalam hal ini, seperti menulis di media sosial; "Alhamdulillah, meski rezeki tidak melimpah tapi bisa menyantuni fakir miskin dan anak-anak yatim, alhamdulillah bisa membantu ibu-ibu menyebrang jalan raya," dan sejenisnya.
Jika dua pilar kesalehan ini maksimal dipertahankan, tanpa pamer di ruang publik maka akan mampu menjadi unsur bagian dari masyarakat religius berkualitas, meskipun di tengah badai kemajuan sains dan teknologi informasi.
Kondisi sedemikan rupa seseorang mempublikasikan segala amal ibadah di media sosial itu bisa berbahaya karena bisa terjerumus kepada syirik terselebung atau syirik chofi.
Imam Izzuddin Bin Abdussalam (W 660 H), dalam kitabnya; Qowaidul ahkam Fi Islahil Anam, dalam hal kualitas ibadah, Ia berpendapat: "Jika seseorang dalam beribadah karena Allah swt, berusaha menjauhkan diri dari pamrih perhatian sosial, entah berharap penghormatan atau pengakuan dari sesama manusia, atau kepentingan pragmatis beragama dan unsur keuntungan duniawi, maka Ia berada dalam posisi ibadah sejati, ikhlas beribadah mencari keridhaan Allah SWT”.
Melacak Jebakan Iblis
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-koneksi-internet-sejumlah-aplikasi-media-sosial-sulit-diakses.jpg)