Selasa, 14 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Pertumbuhan Ekonomi Hanya 2,97% Pertanda Apa? Ini Kata Pakar

Ekonom Indef, Bhima Yudhistira menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2020 sebesar 2,97 persen year on year (yoy) merupakan sinyal buru

Harian Warta Kota/Henry Lopulalan
Ilustrasi - Penukaran uang dolar ke rupiah. Editor: Mohamad Yoenus 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Ekonom Indef, Bhima Yudhistira menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2020 sebesar 2,97 persen year on year (yoy) merupakan sinyal buruk.

Angka itu mengalami perlambatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan kuartal IV/2019, yakni sebesar 4,97 persen yoy. Angka itu juga turun dari periode sama tahun lalu mencapai 5,07 persen.

"Pertumbuhan di bawah 3 persen ini adalah indikator yang buruk," ujarnya, kepada Tribunnews, Kamis (7/5).

Menurut dia, perlambatan pertumbuhan ekonomi saat ini tidak hanya disebabkan pandemi virus corona atau covid-19, tetapi ada faktor lainnya yang menjadi pemicu sebelumnya.

Hal itu mengingat informasi terkait dengan adanya pasien pertama yang positif terinfeksi corona baru diumumkan pada Maret lalu.

Sementara pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran pandemi ini baru dimulai pada April, atau memasuki kuartal II.

"Presiden (Joko Widodo) baru umumkan pasien 01 pada Maret, sementara PSBB berlaku di Jakarta mulai April atau masuk kuartal kedua.

Artinya, pandemi masuk terlambat ke Indonesia saja, (ekonomi-Red) di kuartal I sudah tumbuh rendah sekali," jelasnya.

Bhima menilai, merosotnya pertumbuhan ekonomi Indonesia juga didukung faktor lain yang berlangsung sejak beberapa tahun lalu.

"Berarti bukan hanya pandemi covid-19 yang membuat ekonomi turun tajam, tapi ada faktor sisi permintaan sejak 3 tahun lalu lesu," paparnya.

Menurut dia, hal itu di antaranya akibat membanjirnya produk impor dan tidak siapnya Indonesia menghadapi dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

"Industri bahkan jauh sebelum Covid-19 sudah digempur barang impor dan kita tidak siap menghadapi perang dagang AS-China," jelasnya.

Dengan kondisi itu, Bhima menilai, pertumbuhan ekonomi pada kuartal II akan lebih parah dari kuartal I. "Kalau kuartal I sudah anjlok cukup dalam, maka diperkirakan kuartal II ekonomi akan minus," paparnya.

Menurut dia, hal itu karena dipicu sejumlah hal terkait dengan upaya pemerintah dalam melakukan pencegahan penyebaran covid-19.

Pemberlakuan kebijakan PSBB yang diperluas hingga ke kota lain selain Jakarta, serta pelarangan mudik pada momen menjelang

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved