Virus Corona Jateng

Penyebab Sukoharjo Peringkat 2 Terbanyak Kasus Corona di Jateng, Yunia: Warga Tak Disiplin

Kabupaten Sukoharjo kini menyandang predikat nomor dua terbanyak kasus pasien terkonfirmasi positif virus corona Covid-19 se-Jawa Tengah.

Tribun Jateng/Re Klara Muhammad Cuba
Ilustrasi virus corona 

TRIBUNJATENG.COM, SUKOHARJO - Kabupaten Sukoharjo kini menyandang predikat nomor dua terbanyak kasus pasien terkonfirmasi positif virus corona Covid-19 se-Jawa Tengah.

Per Selasa (19/5/2020), jumlah kumulatif kasus pasien terkonfirmasi positif Covid-19 tercatat sebanyak 67 kasus.

Rinciannya, 19 karantina mandiri, 17 karantina di rumah sehat, 6 rawat inap, 21 sembuh, dan 4 meninggal dunia.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Sukoharjo, Yunia Wahdiyati menyebutkan tingginya kasus positif Covid-19 lantaran masyarakat tidak disiplin menjalankan karantina selama 14 hari.

Wagub DKI Jakarta Minta Warga Jangan Sholat Id di Masjid & Lapangan Meski dengan Protokol Covid-19

PSBB 124 Kabupaten/Kota di Indonesia Akan Dibuka karena Masuk Wilayah Hijau

Ini Daftar 5 Ponsel Resolusi Kamera 64 Megapiksel: Mulai Oppo, Samsung, Xiaomi hingga Realme

Pesawat Tempur Termahal di Dunia F-35 Lightning II Milik Angkatan Udara AS Jatuh Saat Terbang Malam

Deretan Ponsel Kamera Beresolusi 48 Megapiksel dan Harga Bulan Mei 2020, Xiaomi hingga Samsung

"Seperti diketahui bersama di satu sisi di sini diminta untuk menjalankan protokoler kesehatan secara ketat," kata Yunia kepada TribunSolo.com, Rabu (20/5/2020).

"Imbauan itu belum bisa dilakukan optimal sehingga kasus-kasus potensi masalah yang semestinya dilakukan isolasi mandiri secara ketat, belum melakukan isolasi mandiri," papar dia.

"Sehingga dari situ muncul penularan-penularan yang membuat kasus di Sukoharjo tinggi," imbuhnya membeberkan.

Yunia menuturkan masyarakat tidak disiplin jalankan karantina mandiri lantaran sejumlah kebutuhan tidak terpenuhi.

"Penularan bisa diputus apabila masyarakat itu sangat disiplin dengan tata laksana karantina mandiri 14 hari, harus di rumah ibaratnya putus mungkin dengan keluarga dan lingkungan sekitarnya," tutur dia.

"Itu tidak mudah ada kebutuhan-kebutuhan, yang harus dipenuhi oleh masyarakat yang melakukan itu," tambahnya.

Itu membuat masyarakat yang menjalankan karantina mandiri seolah tak bisa 'mengendalikan dirinya'.

"Kebutuhan ekonomi, sosial, ibadah dan sebagainya, satu dua kasus tidak bisa mengendalikan diri untuk isolasi mandiri," kata dia.

"Itu yang membuat pemutusan rantai penularan belum bisa terjadi," tandasnya. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunsolo.com dengan judul Misteri Sukoharjo Peringkat 2 Terbanyak Kasus Positif Covid-19 di Jateng, Bagaimana Bisa?

Menangis 3 Hari karena Pacar Selingkuh, Perempuan Ini Balas dengan Kirim 1.000 Kg Bawang

Ucapan Selamat Idul Fitri 1441 H Lebaran 2020 Dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris

Daftar Ponsel Xiaomi dan Redmi yang Update MIUI 12 Juni, Layar Bisa Ditampilkan ke TV

Jadwal Imsak dan Buka Puasa Hari Ini Blora, Ramadhan Hari ke-28, Kamis 21 Mei 2020

Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Solo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved