Berita Semarang

Seniman Semarang Ciptakan Tari Silaturahmi di Tengah Pandemi Corona

Seniman kenamaan asal Semarang, Yoyok Bambang Priyambodo, mengajak masyarakat untuk terus mempererat tali silaturahmi.

Editor: m nur huda
Istimewa
Seniman kenamaan asal Semarang, Yoyok Bambang Priyambodo, menciptakan tari Sungkeman mengajak masyarakat untuk terus mempererat tali silaturahmi. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Seniman kenamaan asal Semarang, Yoyok Bambang Priyambodo, mengajak masyarakat untuk terus mempererat tali silaturahmi.

Meski di masa pandemi, menurutnya, silaturahmi harus tetap terjaga.

Ajakan tersebut dia wujudkan dengan karya video tari bertajuk 'Semangat Tari Silaturahmi Dalam Fitrah'.

Dalam karya tersebut, Yoyok melalui keterangan persnya, mengajak keluarganya turut serta menari.

Menurut dia, silaturahmi tidak harus bertemu secara langsung dengan keluarga.

Baginya, di masa pandemi seperti ini silaturahmi dapat dijalin melalui komunikasi dan media sosial.

Rencana KBM di Sekolah, Pemkot Salatiga Tunggu Kajian Pemprov Jateng

Besok Terakhir, Ini Cara Login dan Pengisian Sensus Penduduk Online Mudah dan Praktis

Razia Masker Digencarkan, Ketahuan Melanggar Akan Dikarantina di GOR Satria Purwokerto

Viral Bocah Penjual Kerupuk  Dibully, Dagangannya Berceceran di Lantai

Oleh karenanya, Yoyok mengajak masyarakat bersilaturahmi melalui media sosial seperti karya tari yang dipentaskan secara daring.

"Dalam karya tari ini, kami mengambil filosofi Jawa yaitu, Catur Magedang. Salah satu properti tarinya, Tanaman Pisang. Secara filosofis, pisang memiliki makna, Ngempan Papan, Kukuh Ing Ngabdi, Widji Dadi, dan Saeka Kapti,"kata Yoyok, Sabtu (23/5).

Menurut Yoyok, secara makna, Saeka Kapti memiliki arti bahwa pohon pisang selalu tumbuh bersama, tidak sendirian. Itu bisa diartikan sebagai semangotong royong dalam keluarga.

"Sementara Widji Dadi, bermakna orangtua harus menyiapkan Generasi Penerus. Agar selalu meneruskan hidup untuk kebaikan dan bermanfaat bagi siapapun. Wujudnya berupa tunas yang muncul di sebelah pohon induk,"terangnya.

Lebih jauh, Yoyok menjelaskan mengenai filosofi Panca Warga. Bagi dia, keluarga baiknya konsisten dalam kebersamaan dalam berbagai kondisi.

"Kami simbolkan dalam gerak tari Sungkeman. Yakni sebuah isyarat saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Dan restu orang tua sebagai tongkat penuntut agar anak Tulus, Teteg, Titi, Tatag, Tutuk, Tekan, mencapai kebahagiaan dunia akhirat,"papar dia.

Dalam sajian karya tersebut, selain Yoyok, juga turut tampil Tri Narimastuti, Sangghita Anjali, Canadian Mahendra, serta Ratu Gayatri.

Semua penari mengenakan kostum lurik, sehingga semakin memperkuat nuansa budaya Jawa. Karya tersebut juga dibuat untuk memperingati Idul Fitri 1441 Hijirah.(*)

BREAKING NEWS : Jasad Warga Kesugihan yang Terpeleset di Sungai Karangkandri Ditemukan

Khitan Hipnotis yang Tak Terasa Sakit Ala Rumah Sunat Semarang

Berikut Prakiraan Cuaca BMKG di Kabupaten Pekalongan, Kamis 28 Mei 2020

Klasemen & Top Skor Bundesliga Pekan 28, Bayern Munchen Kokoh dan Lewandowski Tak Tergoyahkan

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved