Berita Semarang
Warga Perum Bukit Manyaran Semarang Sering Dengar Suara Patahan Material di Bawah Rumah Tiap Malam
Rumah milik Wiwit (46) warga Perumahan Bukit Manyaran Permai kini tinggal berjarak 1 meter dari tanah longsor.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Rumah milik Wiwit (46) warga Perumahan Bukit Manyaran Permai Kelurahan Sadeng Kecamatan Gunungpati, kini tinggal berjarak 1 meter dari tanah longsor yang terjadi di depan rumahnya.
Tanah longsor tersebut memiliki kedalaman sekira 5 meter dengan panjang 30 meter sehingga depan rumah Wiwit bak di depan jurang.
Akses jalan ke rumahnya hanya sebatas tanah selebar 1 meter.
• Viral Warung Makan Jual Ikan Gurame 3 Porsi Rp 1,3 Juta
• Ganjar Minta Polisi Tindak Keluarga Pasien Corona yang Ancam Tenaga Medis di Sragen
• BREAKING NEWS: Tanah Longsor Tutup Tol Ungaran Arah Semarang, Kendaraan Keluar di Exit Toll Ungaran
• Jalur Tol Ungaran yang Sempat Tertutup Longsor Sudah Bisa Dilalui
"Saya titipkan sepeda motor di rumah tetangga, kalau masuk rumah lewat tanah selebar 1 meter yang kini juga mulai terkikis ketika hujan," paparnya kepada Tribunjateng.com, Minggu (31/5/2020).
Dia mengaku longsoran tanah mulai terjadi pada awal Desember 2019.
Namun belum separah seperti sekarang.
Melihat kondisi itu dia berusaha menguruk longsoran dengan menggunakan material tanah di kisaran bulan Maret hingga April.
Selanjutnya longsoran tanah semakin parah akibat digerus hujan deras yang rutin terjadi akhir-akhir ini.
"Saya sudah menghabiskan sebanyak lima dump truk tanah untuk menguruk lubang depan rumah akibat longsoran tetapi sia-sia."
"Apalagi setelah hujan semalam longsoran tanah semakin parah," paparnya.
Wiwit mengatakan, setiap malam selalu was-was terutama saat turun hujan.
Pasalnya mendengar seperti suara patahan tanah yang terjadi di bawah rumahnya.
Dia menambahkan, longsoran tanah tersebut juga berusaha ditanggulangi dengan melakukan pembronjongan seadanya yang dilakukan secara mandiri tiga minggu lalu.
"Kami dengar suara kretek-kretek setiap hujan turun."
"Paling parah tadi malam sehingga semalam suntuk kami sekeluarga tidak bisa tidur," jelasnya.