Berita Semarang
Warga Perum Bukit Manyaran Semarang Sering Dengar Suara Patahan Material di Bawah Rumah Tiap Malam
Rumah milik Wiwit (46) warga Perumahan Bukit Manyaran Permai kini tinggal berjarak 1 meter dari tanah longsor.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: Daniel Ari Purnomo
Kendati demikian, Wiwit tidak bisa berbuat banyak.
Usaha yang bisa dia lakukan hanya menguruk tanah dan melakukan bronjong seadanya dengan cara swadaya.
"Hanya bisa bertahan di sini dengan doa dan pasrah meskipun di rumah ada ibu yang sudah tua namun mau pindah ke mana?."
"Harapannya pemerintah kota bisa menanggulangi kondisi tanah longsor di wilayah kami sehingga longsoran tanah tidak makin parah," ucap guru senam yang kini tidak bisa bekerja lantaran wabah Corona.
Sementara warga lain, I Ketut Nuaba menjelaskan, longsoran tanah tersebut telah meruntuhkan satu rumah miliknya.
Tampak di sisi utara area longsor terdapat puing-puing rumah milik Ketut.
"Saya mulai merasa tanah bergerak di lingkungan perumahan yang saya tempati awal tahun 2019."
"Lalu kami mengajukan bantuan ke BPBD Mei 2019."
"Namun talut tersebut tidak mampu tanah yang labil sehingga terjadi longsor," bebernya.
Dia berharap longsoran tanah itu harus segera ditindaklanjuti Pemkot Semarang.
Minimal dengan melakukan pembronjongan tanah agar longsoran tidak semakin parah.
Pasalnya, terdapat empat rumah lain yang kini bernasib seperti rumahnya.
Ketut mengakui Pemkot sudah menindaklanjutinya melalui BPBD Kota Semarang dengan pemasangan talut pada Februari lalu.
Namun tidak efisien lantaran tidak mampu menahan longsor.
"Kalau rumah saya sudah hancur, tetapi ada rumah warga lain yang kondisinya bisa sama dengan rumah saya jika tidak segera ditangani," paparnya.