Berita Semarang
Memilih Batik Pewarna Alam untuk Kelestarian Lingkungan
Sejak tahun 2017 lalu, pemilik Batik Warna Alam Siputri itu tak pernah mengubah visinya untuk turut melestarikan alam.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Setiap usaha membutuhkan kekonsistenan bagi para pelakunya.
Jika tidak, usaha tersebut akan terombang-ambing tanpa arah tujuan.
Hal itulah yang sekiranya menjadi pegangan bagi salah satu pelaku UMKM di Kota Semarang, Putri Merdekawati.
Sejak tahun 2017 lalu, pemilik Batik Warna Alam Siputri itu tak pernah mengubah visinya untuk turut melestarikan alam di samping menjaga salah satu warisan budaya Indonesia tersebut.
Wanita asal Prambanan, Yogyakarta yang kini membuka workshop batik di Pakintelan, Gunungpati, Semarang ini tetap konsisten menggunakan bahan-bahan alami untuk setiap batik yang ia produksi.
"Mungkin bagi sebagian orang, itu sangat idealis.
Namun bagi saya, kalau tidak ada suatu idealisme yang dipegang membuat patah semangat.
Itu yang membuat semacam acuan. Setiap inovasi koridornya adalah melestarikan lingkungan dan melestarikan budaya," ujar Putri kepada tribunjateng.com, Minggu (21/6/2020).
Atas dasar itulah dirinya tak pernah asal menerima kerjasama walaupun banyak tawaran.
Visi tersebut tetap ia pegang.
Batik Warna Alam Siputri memiliki daya tarik tersendiri.
Sesuai namanya, Batik Warna Alam Siputri dibuat dari bahan-bahan alami.
Di antaranya dari daun ketapang, kayu mahoni, kayu teger, kayu secang, kayu tingi, dan buah Jolawe.
Bahan-bahan itu didapatkannya dari lingkungan sekitar.
"Seperti tempat saya, Workshop di Gunungpati, di desa, bahan bakunya juga masih mudah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/produk-batik-warna-alam-siputri.jpg)