Berita Semarang
Memilih Batik Pewarna Alam untuk Kelestarian Lingkungan
Sejak tahun 2017 lalu, pemilik Batik Warna Alam Siputri itu tak pernah mengubah visinya untuk turut melestarikan alam.
Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: Daniel Ari Purnomo
Beberapa saya beli dari supplier tetapi kalau daun ketapang ambil saja karena terkadang orang membuangnya.
Kemudian tanaman ketapang ini juga kami menanam sendiri, jadi mudah didapat," ungkap lulusan S2 Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS) tersebut.
Menurut Putri, motif dan model batik alam Siputri juga memiliki keunikan tersendiri.
Motif dan model dibuat dengan jumlah terbatas sehingga tidak banyak orang yang menyamainya.
Batik dibuat dari bahan kain katun primis sanforised dan sutra.
"Keunikan batik yang kami produksi membuat pemakainya lebih 'berharga' krn motif/model terbatas sehingga tidak banyak kembaran.
Batik yang kami produksi bermakna juga karena ikut melestarikan lingkungan bagi pemakainya," paparnya.
Di samping itu, kata Putri, warna-warna yang dihasilkan dari Batik Warna Alam Siputri ini lebih lembut.
Hal itu karena komposisi warna berasal dari bahan-bahan alami.
Warna-warna ini terlihat lebih elegan dengan dasar hitam, coklat, dan lainnya.
"Batik yang kami produksi ini cocok bagi pecinta warna-warna lembut.
Jadi itu menjadi daya tarik tersendiri," terangnya.
Selama hampir tiga tahun usaha batik dengan pewarna alam ini telah digelutinya.
Dibantu 6 orang dalam tim, Putri berhasil mengelola tiga galeri di Kota Semarang, yakni Workshop & Gallery jalan Watusari RT 3 RW 6 Kelurahan Pakintelan Kecamatan Gunungpati Semarang, Outlet Bandara A Yani Semarang (di Galeri UMKM Jateng), dan Galeri UMKM Semarang (kawasan Kotalama Semarang).
Di samping itu, ia juga sukses melebarkan bisnis tersebut melalui e-commerce di Tokopedia Batik Siputri Store, website www.batiksiputri.com, dan akun instagram serta facebook batikwarnaalamsiputri17.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/produk-batik-warna-alam-siputri.jpg)