Breaking News:

OPINI

OPINI Lukmono Suryo Nagoro : Omnibus Law Itu Doping·

Bagaimana cara seorang atlet itu memenangkan pertandingan? Berlatih dengan keras atau menggunakan doping atau kombinasi keduanya.

Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/hermawan handaka
Perwakilan buruh yang tergabung dalam KSPI Jawa Tengah mendatangi kantor DPRD Jawa Tengah yang intinya mereka menuntut Pemerintah pusat menolak pembahasan omnibus law karena kajian kami di KSPI bahwa secara substansi, omnibus law cenderung merugikan kaum buruh, Senin (20/1) 

Lukmono Suryo Nagoro

Editor buku dan tinggal di Solo

Bagaimana cara seorang atlet itu memenangkan pertandingan? Berlatih dengan keras atau menggunakan doping atau kombinasi keduanya. Situasi ini mirip dengan negara Indonesia yang ingin mengesahkan omnibus law sebagai cara menggerakan sektor riil dan investasi. Bagi saya omnibus law itu salah satu bentuk doping, padahal doping itu dilarang dalam segala cabang olahraga karena termasuk kecurangan.

Untuk menghindari kecurangan, para atlet akan lebih sering berlatih memoles dirinya menguatkan otot dan jantung agar tidak mudah cedera dan mampu memompa napas sampai akhir pertandingan.

Otot-otot itu merupakan cabang produksi yang menggerakkan ekonomi. Sektor-sektor tersebut harus tumbuh harmonis. Sektor yang menghasilkan barang harus bisa kompetitif di pasar luar negeri dan domestik. Barang buatan Indonesia tidak boleh kalah bersaing dengan barang impor. Sektor jasa juga termasuk otot dalam ekonomi..

Selain itu, jantung juga tidak boleh cepat lelah dalam menyedot dan memompa ke sekujur tubuh secara adil agar sektor ekonomi leluasa bergerak. Jantung sektor ekonomi adalah keuangan.

Otot jantung ini dirasa masih lemah karena kontribusinya dalam membentuk pertumbuhan domestik bruto Indonesia masih minim. Perbankan sebagai pilar utama sektor keuangan hanya mampu memompakan darah 42,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) padahal sebelum krisis 1997-1998 mencapai 62,1 persen.

Kondisi tersebut diperburuk oleh penyaluran kredit yang masih berkisar di angka satu digit atau 9 persen (2019). Pertumbuhan kredit yang seret mengakibatkan kemampuan jantung menyedot dan memompa menjadi tidak prima. Akhirnya, pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia sangat susah bergeser dari angka 5 persen.

Apakah faktor yang demikian menyebabkan pemerintah akan menyuntikkan doping untuk memperkuat otot jantungnya. Pemerintah Indonesia berencana memacu pertumbuhan ekonomi agar bisa berlari dengan kencang menggunakan “doping” omnibus law untuk menjawab keluhan Presiden Joko Widodo mengenai pertumbuhan ekonomi masih berada di angka 5 persen karena investasi yang jeblok.

Kinerja investasi Indonesia tidaklah buruk. Pertumbuhan investasi yang diukur dengan pembentukan modal tetap bruto dalam lima tahun terakhir masih di atas pertumbuhan PDB. Pada masa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla pangsa investasi asing di Indonesia mencapai 32,3 persen dari PDB dengan rata-rata pertumbuhan per tahunnya 6 persen. Angka tersebut masih di atas pertumbuhan PDB yang hanya rata-rata 5 persenan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved