Ngopi Pagi

FOKUS : Cerita dr Andani

BUKAN mau sok latah ikut-ikutan memuji orang ini. Tapi kalau yang dilakukan baik dan hasilnya sudah terbukti, kenapa kita tidak meniru?

Penulis: muslimah | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Muslimah wartawan tribunjateng.com 

Oleh Muslimah

Wartawan Tribun Jateng

BUKAN mau sok latah ikut-ikutan memuji orang ini. Tapi kalau yang dilakukan baik dan hasilnya sudah terbukti, kenapa kita tidak meniru? Daripada menuruti ego tapi kemudian babak belur dan kesulitan untuk bangkit.

Dia adalah dokter Andani Eka Putra, Kepala Labor Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Sosok ini disebut-sebut sangat berjasa menekan penyebaran Covid-19 di Sumatera Barat.

Alkisah, pada awal Mei lalu, Sumbar sempat berada di posisi tujuh besar nasional dengan kasus Covid-19 tertinggi se-Indonesia. Namun, perlahan tapi pasti, angka tersebut terus ditekan hingga sekarang peringkat provinsi tersebut turun drastis ke posisi 17 nasional.

Berdasarkan rilis dari Kementerian Kesehatan RI per 29 Juni 2020 lalu, Sumbar menempati posisi teratas dengan angka 1,8 persen untuk persentase positivity rate (PR) Covid-19 terendah di Indonesia, diikuti DI Yogyakarta 1,9 persen, Riau 2,16 persen, Nusa Tenggara Timur 2,25 persen, Bangka Belitung 3 persen.

Lantas apa yang dilakukan dr Andani? Memaksimalkan tes swab dan tracing. Sesederhana itu.

Sumbar ogah melakukan rapid test karena metode ini tidak dapat menjamin seseorang seratus persen positif corona meskipun hasil tes menyatakan ia reaktif.

Atau sebaliknya, seseorang benar-benar tidak terjangkit corona meski hasil tesnya menyatakan negatif. Terbukti, ada kasus dimana hasil rapid test negatif, tapi orang tersebut ternyata OTG hingga menularkan ke banyak orang lain.

Sejauh ini, hanya swab test yang diyakini 100 persen bisa benar-benar membuktikan seseorang positif corona atau negatif.

Karena itulah di laboratoriumnya dr Andani berjibaku. Pernah menurut ceritanya, ia dan timnya mencatat rekor memeriksa sampel 2.600 dalam sehari. Sejak izin Kemenkes didapat pada 20 Maret 2020 lalu, total sudah 55.000 sample diperiksa di lapratoriumnya.

Hasil swab bisa diketahui lebih cepat dan konon, sekarang mereka bahkan kekurangan sample untuk diuji gratis.

Sementara tracing terus dilakukan dalam upaya menutup pergerakan virus yang sangat masif ini. Yang paling penting menurut dr Andani adalah mencari OTG. Ia menyebut mencari OTG sebagai menangkap harimau yang berkeliaran bukan harimau yang sudah terperangkap.

"Kuncinya ada di situ. Tracing, diswab kemudian samplenya dites di labor. Ada yang positif ditracing lagi, diswab dan diperiksa.lagi. Begitu seterusnya," kata dr Andani.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved