Bank Kecil Makin Terpuruk
Bank kecil di kelas BUKU 1 dan BUKU 2 menghadapi tantangan pandemi yang membuat kinerjanya makin melorot.
TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Tak cuma kesulitan menghadapi persaingan dengan bank besar, kini bank kecil di kelas bank umum kegiatan usaha (BUKU) 1 dan BUKU 2 juga mesti menghadapi tantangan pandemi yang membuat kinerjanya makin melorot.
Merujuk catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Mei 2020, pertumbuhan laba dua kelas bank ini tercatat negatif, di mana BUKU 1 melorot 39 persen year on year (yoy), sedangkan BUKU 2 menurun 10,9 persen yoy.
Di kelas BUKU 2 ada PT Bank Woori Saudara 1906 Tbk yang mencatat laba anjlok hingga 16,3 persen yoy pada semester I/2020 menjadi Rp 250,2 miliar. Tahun lalu pada periode yang sama, perseroan berhasil mencatatkan laba Rp 299,9 miliar.
Direktur Business Support Bank Woori, Sadhana Priatmadja mengatakan, pandemi turut mengganggu rasio rentabilitas perseroan. Hal itu antara lain terlihat dari rasio NIM yang turun menjadi 3,28 persen, RoA menjadi 1,79 persen, dan RoE menjadi 10,63 persen.
“Sejak Maret hingga April terjadi perlambatan kredit, sementara baru kembali meningkat pada Mei, sehingga belum terlalu berefek terhadap rugi/laba kami,” katanya, kepada Kontan, Senin (3/8).
Meski demikian, menurut dia, fungsi intermediasi perseroan justru tercatat mumpuni, dengan pertumbuhan kredit tercatat sebesar 9,6 persen yoy menjadi Rp 27,73 triliun per akhir Juni lalu.
Sadhana menuturkan, pertumbuhan kredit itu juga diiringi dengan kualitas yang makin membaik. Non performing loan (NPL) nett perseroan mengecil menjadi 0,8 persen, sementara NPL gross juga menyusut menjadi 1,42 persen.
“Perbaikan kualitas kredit terjadi akibat masih bertumbuhnya penyaluran kredit kami, kemudian adanya penyelesaian kredit periode sebelumnya yang bermasalah, dan adanya kebijakan terkait dengan restruktukturisasi kredit dari OJK,” jelasnya.
Adapun di kelas BUKU 1 ada PT Bank Harda Internasional Tbk yang justru mencatatkan pertumbuhan laba semester I/2020 mencapai 250 persen yoy menjadi Rp 33,56 miliar.
Direktur Bank Harda, Yohanes Sutanto menyatakan, pertumbuhan laba tersebut utamanya ditopang koreksi pencadangan yang dilakukan perseroan.
“Pertumbuhan laba karena kami berhasil menyelesaikan beberapa kredit bermasalah, sehingga ada koreksi CKPN. Di samping itu kami juga tetap menyalurkan kredit, meski dilakukan sangat selektif,” paparnya.
Sayangnya, menurut dia, kinerja intermediasi perseroan memburuk akibat pandemi, dengan penyaluran kredit tercatat minus 24,8 persen yoy menjadi Rp 1,48 triliun.
Kualitas kredit Bank Harda juga makin memburuk, dengan terjadinya peningkatan NPL gross menjadi 6,9 persen, dan NPL nett meningkat hingga 3,5 persen. (Kontan.co.id)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-uang-rupiah-nilai-tukar-rupiah.jpg)