Berita Kesehatan
Penjelasan Pakar Kesehatan dari Unnes Semarang Mengenai Manfaat dan Bahaya Ganja
Dikatakan Anik, yang patut diwaspadai adalah penyalahgunaan ganja di tengah masyarakat, karena effeknya sangat membahayakan kesehatan
Penulis: budi susanto | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kontoversi soal ganja sudah menjadi cerita lama, pemerintah lewat produk hukumnya juga melarang penggunaan tanaman yang masuk dalam jenis psikotropika itu.
Pasalnya kandungan psikotropika dalam ganja dapat menyebabkan kecanduan dan effek halusinasi.
Mengenai ganja, Menteri Pertanian juga sempat mengeluarkan keputusan mengenai tanaman ganja menjadi tanaman obat binaan Kementan.
• Syamsul Hadi yang KTPnya Ditemukan di Markas ISIS Disebut BNPT Teroris Lintas Batas Yang Berpengaruh
• Cuma Mau Beli Sarapan, Kekeyi Pilih Naik Mobil Mewah Baru
• Jose Mourinho Datangkan Pemain Paling Dibenci ke Tottenham Hotspurs
• Promo Superindo Terbaru, Diskon Hari Kerja 31 Agustus 2020 - 3 September 2020
Meski demikian, keputusan tersebut bersifat singkat, karena Mentan mencabutnya kembali dan akan melakukan revisi ulang.
Diluar polemik tersebut, tanaman ganja memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, dengan catatan penggunaannya sesuai.
Menurut Anik Setyo Wahyuningsih, Dosen Kesehatan Masyarakat Unnes Semarang, dari penelitian dan jurnal terbaru, manfaat ganja untuk kesehatan sangat banyak.
"Kalau melihat dari sisi medisnya, ganja bisa untuk menghentikan sel kanker, melindungi otak pada cedera kepala, mencegah alzheimer, mengurangi tremor pada parkinson, mengobati glaukoma, bahkan menambah nafsu makan," katanya kepada Tribunjateng.com, Selasa (1/9/2020).
Dilanjutkannya, pada dosis tertentu dengan bentuk esential oil, ganja bisa dimanfaatkan untuk relaxasi.
"Karena dalam ganja ada kandungan zat yang bisa memunculkan euforia dan mengurangi stress," paparnya.
Dikatakan Anik, yang patut diwaspadai adalah penyalahgunaan ganja di tengah masyarakat, karena effeknya sangat membahayakan kesehatan.
"Penggunaan yang salah dapat menimbulkan efek yang sangat merugikan kesehatan. Selain adiksi atau kecanduan, halusinasi, menurunkan sistem imun, dan memacu detak jantung, penggunaan ganja yang salah dapat mempengaruhi perkembangan janin," ucapnya.
Ia menambahkan, di Indonesia ganja masuk daftar obat Napsa, dan negara belum merespon baik berbagai temuan terbaru mengenai ganja.
"Ibaratnya late respon, bahkan baru ramai saat ini karena adanya pencabutan Kepmentan. Padahal menurut saya selama untuk penggunaan yang sesuai, terutama untuk dunia kedokteran tidak masalah, contohnya alkohol," tambahnya. (bud)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-ganjathinkstock.jpg)