Berita Pendidikan
Relawan Pendidikan: Di Luar Negeri Saya Bingung Gaji Mau Buat Apa
Kemendikbud gencar menyerukan agar mahasiswa asal Indonesia pulang setelah selesai menjalani studi
Penulis: budi susanto | Editor: muslimah
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Kemendikbud gencar menyerukan agar mahasiswa asal Indonesia pulang setelah selesai menjalani studi.
Permintaan itu diserukan langsung oleh Menteri Nadiem Makarim beberapa waktu lalu, saat mengikuti webbinar bersama Gubernur Jateng, Walikota Semarang, dan jajaran PGRI Jateng.
Permintaan Menteri Nadiem didasari kondisi dunia pendidikan di Indonesia yang terdampak Covid-19.
Untuk itu mahasiswa asal Indonesia diminta pulang ke tanah air, guna memulihkan dan memberi sumbangsih terhadap dunia pendidikan tanah air.
Permintaan tersebut direspon mahasiswa dan relawan pendidikan yang pernah menimba ilmu di luar negeri.
Beberapa menyatakan pesimis, dan lainya antusia menanggapi permintaan Kemendikbud untuk mengabdi di dunia pendidikan.
Evin Virya mahasiswi yang menimba ilmu di Universitas Paris XIII, misalnya. Ia mengaku sangat antusiasi jika diminta mengabdi di dunia pendidikan.
Meski antusias, namun ia meminta jaminan masa depan jika diminta untuk mengabdi kepada negara.
"Kalo secara pribadi, saya tidak masalah jika diminta mengabdi dan balik ke Indonesia. Justru saya punya cita-cita ingin membantu meningkatkan pendidikan dan perekonomian Indonesia," jelas mahasiswi jurusan commerce itu, Jumat (4/9/2020).
Namun menurut mahasisiwi 21 tahun asal Semarang itu, ada beberapa permasalahan yang acap kali menghantui lulusan luar negeri untuk kembali ke Indonesia.
"Yang paling mendasar adalah penghargaan yang diberikan negara. Kalau di luar punya kemampuan pasti dihargai, namun di negara sendiri kemampuan lulusan luar negeri rasanya kurang dihargai," jelasnya.
Evin mengatakan, permasalahan birokrasi di Indonesia juga sangat rumit, terutama untuk mencari kerja.
"Tak jarang kan ada istilah orang dalam untuk mendapatkan kerja. Berbeda dengan luar negeri, kalau kompetesi bagus pasti diterima. Hal tersebut membuat lulusan luar negeri merasa negara luar lebih menjanjikan untuk dunia kerja," katanya.
Dituturkannya, beberapa permasalahan tersebut membuatnya ragu untuk mewujudkan cita-citanya mengabdi untuk dunia pendidikan di Indonesia.
"karena hal itu saya kembali ke Indonesia hanya untuk bertemu keluarga. Kalau untuk kerja saya berpikir ulang," tuturnya.
Sementara itu, Aji Nawung Brata, warga Purwodadi yang pernah menjadi relawan pendidikan di Klosko, Polandia, mengaku, sebelum meminta pelajar Indonesia di luar negeri pulang untuk mengabdi, jaminan masa depan wajib diberikan oleh pemerintah terlebih dahulu.
"Karena kondisinya sangat timpang, di tempat saya mengajar dulu, semua fasilitas diberikan, tidak hanya transpotasi, bahkan tempat tinggal untuk guru.
Hal itu untuk menjamin kehidupan para pengajar, kalau diterapkan di Indonesia pasti banyak yang mau mendedikasikan diri untuk dunia pendidikan," kata Aji.
Ia menambahkan, meski gaji yang ia terima tak seberapa, namun fasilitas yang diberikan membuat para pengajar merasa nyaman.
"Gaji saya waktu mengajar di Polandia 2013 lalu hanya Rp 2,8 juta. Namun uang tersebut bingung mau untuk apa, karena transpotasi, rumah, makan dan fasilitas yang berkaitan dengan pembelajaran sudah dicukupi," tambahnya. (bud)