Minggu, 12 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Oxford Lanjutkan Uji Klinis Tahap Akhir Vaksin AstraZeneca

Vaksin yang dikembangkan Universitas Oxford dan AstraZeneca tetap ditargetkan tersedia akhir tahun.

Editor: Vito
aa.com.tr
Ilustrasi vaksin virus corona covid-19 

TRIBUNJATENG.COM, OXFORD - Universitas Oxford dan raksasa farmasi AstraZeneca Plc telah memulai kembali uji klinis tahap akhir vaksin covid-19 di Inggris, setelah sebelumnya sempat dihentikan karena ada satu relawan yang mengalami efek samping setelah disuntik vaksin tersebut.

Dalam keterangan resminya seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (12/9), Oxford mengatakan, Otoritas Pengaturan Kesehatan Obat-obatan Inggris telah merekomendasikan agar uji coba tetap dilanjutkan setelah dilakukan tinjauan independen terhadap data keamanan yang memicu penghentian sementara pada 6 September lalu.

Meski penghentian sementara biasa terjadi dalam uji klinis vaksin, pemicu penangguhan sementara studi Astra-Oxford itu telah menimbulkan kekhawatiran besar terhadap kelangsungan hidup jika menggunakan vaksin tersebut.

Berbagai negara tengah berlomba-lomba mengembangkan vaksin covid-19. Sebelum-sebelumnya, normalnya pengembangan vaksin membutuhkan waktu satu dekade.

Tetapi, mendesaknya kebutuhan akan vaksin covid-19 membuat pengembangannya bergerak menjadi hanya dalam hitungan bulan, di mana hasil uji klinis tahap akhir diharapkan bisa tersedia bulan depan.

Keterangan resmi Astra dan Oxford itu tidak menjelaskan status uji coba vaksin di luar Inggris. Seperti diketahui, uji klinis vaksin oxford itu tengah dilakukan di berbagai negara sebelum dihentikan sementara. Di antaranya Inggris, Amerika Serikat (AS), Brazil, Afrika Selatan, dan India

Vaksin Oxford tersebut sudah diujicoba kepada sekitar 18.000 orang. Oxford-AstraZneca telah memulai uji coba fase 3 dalam jumlah besar di AS pada akhir Agustus lalu, di mana targetnya uji coba itu bisa mencapai 30.000 orang.

Chief Executive Officer AstraZeneca, Pascal Soriot pada 10 September lalu sempat menyatakan, vaksin itu tetap ditargetkan tersedia akhir tahun.

Dewan keamanan independen sedang meninjau apakah penyakit peserta disebabkan oleh vaksin atau sama sekali tidak terkait. Menurut dia, tidak jelas apakah peserta memiliki kondisi yang disebut myelitis transversal, diagnosis yang dicurigai.

Direktur NIH, Francis Collins mengatakan kepada komite Senat pada Rabu lalu, bahwa uji coba dihentikan pada relawan yang mengalami efek samping tersebut karena masalah sumsum tulang belakang.

"Kami tidak dapat mengungkapkan informasi medis tentang penyakit tersebut karena alasan kerahasiaan peserta. Kami berkomitmen terhadap keselamatan peserta kami, dan standar perilaku tertinggi dalam studi kami, dan akan terus memantau keselamatan dengan cermat," tulis Oxford. (Kontan.co.id)

Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved