SMART WOMEN
Nita Menjaring Bakat Atlet Panjat Tebing dari Gang ke Gang
BERAGAM piala dan medali berjajar di sudut rumah Dyah Kusuma Wardhani Yusnita. Keberadaannya menjadi bukti deretan prestasi yang ditorehkannya
Penulis: Akhtur Gumilang | Editor: moh anhar
BERAGAM piala dan medali berjajar di sudut rumah Dyah Kusuma Wardhani Yusnita, pelatih panjat tebing kebanggaan milik Kabupaten Batang, Jateng. Keberadaannya menjadi bukti deretan prestasi yang ditorehkannya, baik saat menjadi atlet maupun sekarang
Berkat sentuhannya, atlet-atlet panjat tebing asal Batang kini sangat diperhitungkan di tingkat provinsi maupun nasional. Bahkan, beberapa atlet binaannya pun sempat mewakili Indonesia. Perempuan yang akrab disapa Nita ini pertama kali menorehkan prestasi sebagai pelatih saat mengantarkan atlet-atletnya juara umum di Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Panjat Tebing kelompok umur tahun 2012 lalu.
Gelar Juara Umum terus dipertahankan Nita hingga Kejurprov tahun 2019 kemarin. Tak hanya di kelompok umur, sejumlah atlet di tingkat senior yang dibina Nita pun mendapatkan juara umum. Seperti diketahui, Kejurprov adalah kompetisi resmi yang diadakan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) tiap tahunnya. Dari Kejurprov, biasanya lanjut ke Kejuaraan Nasional (Kejurnas). Beragam medali pun tak luput disabet para atlet binaan Nita dalam Kejurnas.
Selain di Kejurprov dan Kejurnas, Nita juga banyak menyumbangkan medali emas untuk Batang pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) yang biasa diadakan 4 tahun sekali itu. Maka tak pelak, atlet-atlet panjat tebing senior asal Batang kini sedang melakukan persiapan untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) 2021. Lalu, tambah Nita, satu atlet binaannya sedang memusatkan latihan di Pelatnas.
"Dua atlet asal Batang, insya Allah menyusul di Pelatnas. Mereka dipersiapkan untuk mewakili Indonesia. Prestasi terbaik kami, saat mendapatkan dua medali pada Asia Championship tahun 2019. Itu dua atlet Pelatnas asal Batang. Di tingkat junior meraih medali emas, lalu di tingkat senior mendapat medali perak. Alhamdulillah, prestasinya cukup luar biasa para atlet panjang tebing asal batang ini," terang perempuan berusia 43 tahun ini.
Kini, Nita punya sekitar 15 atlet binaan. Semuanya rata-rata mampu berprestasi. Ia mulai melatih untuk FPTI Batang sendiri sejak 2008 silam. Banyak prestasi yang ditorehkan Nita bersama atlet-atletnya selama 12 tahun. Ia mengaku, sebenarnya melatih panjat tebing di Batang benar-benar dari nol.
Nita sebenarnya tidak sengaja menjadi pelatih di Batang. Awalnya, Nita hanya mengikuti suami yang bekerja di Disparpora Kabupaten Batang. Suaminya dulu merupakan mantan atlet panjat tebing asal Batang. Ia yang juga dulu merupakan mantan atlet panjat tebing ini akhirnya diajak oleh suaminya untuk menjadi pelatih di FPTI Batang.
Tak muluk-muluk di awal, Nita saat itu hanya membutuhkan atlet untuk menjalankan program federasi naungan KONI ini. Penjaringan bakat pun dilakukan Nita sangat sederhana, bahkan terkesan lucu. Ia tak butuh mencari atlet-atlet sampai pelosok Batang. Saat itu, ia hanya cukup mengajak anak-anak yang tinggal di sekitar gang, tempat mess itu berada. Messnya sendiri tak jauh dari kawasan Alun-alun Batang.
Perempuan asli Surabaya, Jatim ini menyadari bahwa di sekitar gang tersebut banyak anak bermain. Maka dari itu, ia iseng mengajak mereka. Kebetulannya, anak-anak tersebut langsung tertarik saat ditunjukan alat berlatih berupa wall climbing di dalam mess oleh Nita. Bisa jadi, kata Nita, mereka menganggp bahwa wall climbing bisa jadi tempat bermain baru.
"Yang saya ajak itu anak usia SD-SMP. Ada sekitar 10 sampai 20 anak yang langsung datang ke mess buat lihat dan main wall climbing. Karena mereka cukup antusias, akhirnya saya datangi tiap rumah mereka. Saya minta izin ke masing-masing orangtua mereka buat dibolehkan latihan panjat tebing. Saya datangi rumah mereka dari gang tempat saya tinggal, lalu lanjut ke gang-gang sebelahnya. Itu awal-awal saya nyari atlet," cerita Nita sambil tertawa.
Supaya menambah semangat, Nita biasanya memberikan suvenir atau mainan bagi anak-anak didiknya seusai latihan. Ia juga menyediakan bonus tambahan bagi anak-anak yang mampu berlatih lebih dari biasanya. Misalkan, bonus bagi anak yang pull up-nya mampu paling banyak di antaranya anak lainnya.
Ia juga tak jarang memberikan snack kepada anak-anak setelah berlatih jika sedang ada rezeki lebih. Semua yang diberikan Nita saat itu masih keluar langsung dari dompetnya sendiri. Kebetulan, sebagai mantan atlet, ia masih punya penghasilan sebagai design grafis sehingga bisa memberikan hadiah untuk anak-anak didiknya.
"Kita latihan setiap hari. Jadi, hampir setiap hari saya kasih satu-satu hadiah maupun snacknya sehabis latihan. Biar mereka semangat. Itu berlangsung sampai sekian tahun hingga berbuah manis di tahun 2012 karena bisa juara umum di Kejurprov. Alhamdulliah, saya sukarela begitu karena masih ada sampingan kerja desain. Ya, hobi saya sejak kecil memang suka desain gitu," sambungnya.
Dari gang ke gang, akhirnya kian meluas dari sekolah ke sekolah. Meski semakin banyak, seleksi alam tentu tak terhindarkan. Namun dari semua itu, akhirnya Nita menemukan sosok yang kini mengikuti Pelatnas. Kata Nita, anak tersebut berasal dari gang, tempat ia tinggal. Anak tersebut mulai mengikuti Nita berlatih sejak usia 8 tahun.
"Kakaknya juga diajak serta untuk ikut latihan. Ternyata, kakak-adik ini bisa berprestasi. Kakaknya bahkan bisa juara nasional. Tapi sekarang dia udah senior dan bantu saya melatih di sini. Dari gang-gang inilah, anak yang sekarang ikut Pelatnas muncul. Tahun lalu, dia dapat perak di Asian Championship. Sebelumnya, dia juga dapat emas di Asian Youth-nya. Kalau sekarang, dia kelasnya sudah internasional," jelas Nita.
Semua visi-misi Nita dalam dunia panjat tebing berawal di tahun 1992. Ia mengenal panjat tebing saat masih menginjak di bangku SMA. Ia tertarik lantaran melihat kakak kelasnya mendemokan ekstrakulikuler pecinta alam dengan memanjat wall climbing. Di puncak dinding, kakak kelas tersebut mendapat tepuk tangan dari semua siswa karena mengibarkan bendera merah putih. Dari situlah, ia termotivasi ikut karena gemuruh tepuk tangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/smart-women-nita.jpg)