FOCUS
Tidak Ndableg, Bukan (Orang) Indonesia
Sependapat atau tidak, pada kenyataannya, ndableg seakan sudah menjadi ciri khas sifat serta sikap sebagian besar orang Indonesia.
Penulis: deni setiawan | Editor: moh anhar
Dampak yang tidak sedap, terjadi penonaktifan dan pemeriksaan terhadap Kapolsek Tegal Selatan, Kompol Jaeharno karena dinilai telah membiarkan pelanggaran di depan mata.
Adalah harga yang perlu dibayar agak mahal, ketika ndableg atau ngeyel masih diprioritaskan, meski sekeras apapun dibuat, sulit membuat sadar dan patuh terhadap regulasi.
Ini adalah pekerjaan rumah yang besar bagi seluruh pihak agar dapat bersama-sama sadar dan patuh terhadap regulasi yang sudah susah dibuat, bukan dibuat-buat.
Sikap tegas pihak eksekutor regulasi memang sangat diperlukan, tetapi juga tak perlu langsung kaku. Perlu ada solusi serta kajian dari evaluasi di setiap regulasi yang sedang diterapkan.
Ibaratnya seorang anak kecil oleh orangtuanya dilarang naik sepeda hingga ke jalan raya. Normalnya tentu akan diberi alasannya mengapa dilarang.
Satu, dua kali, apabila terulang kembali, tak ada salahnya ditindak keras. Karena dapat disimpulkan, anak tersebut memang ndableg sehingga perlu adanya tindakan sebagai efek jera.
Tentunya tindakan yang tidak dibuat-buat, apalagi hingga mencari celah kesalahan agar dapat dihukum. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/focus-tribun-jateng-senin-28092020.jpg)