Putin dan Macron Serukan Gencatan Senjata Armenia-Azerbaijan
Presiden Rusia Vladimir Putin membahas pertempuran itu dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron, mengulangi seruan untuk gencatan senjata segera.
TRIBNJATENG.COM, BAKU - Azerbaijan mengeklaim telah membunuh dan melukai 2.300 tentara Armenia di Nagorny Karabakh. Dalam keterangan yang disampaikan kementerian pertahanan, ribuan tentara itu tewas atau terluka dalam perang yang pecah sejak Minggu (27/9).
Selain itu, Baku juga mengeklaim telah menghancurkan sistem pertahanan S-300 beserta 130 tank, dan lebih dari 200 artileri di garis depan.
Yerevan jelas membantah klaim musuhnya itu, di mana juru bicara Kementerian Pertahanan Shushan Stepanyan menyatakan, hanya 16 tentara mereka yang gugur.
Sementara pejabat di Nagorny Karabakh, wilayah yang dikuasai separatis etnis Armenia, mengaku sebanyak 80 prajurit mereka tewas dalam perang.
Situasi di Nagorno-Karabakh mulai membara pada 27 September, dengan bentrokan bersenjata yang memasuki hari kelima pada Kamis (1/10). Darurat militer telah berlaku di Azerbaijan dan Armenia.
Adapun, Rusia menawarkan diri menjadi tuan rumah yang dapat menjembatani pembicaraan untuk menyelesaikan perang antara Armenia dan Azerbaijan terkait dengan wilayah Nagorny Karabakh yang disengketakan.
Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov mengajukan tawaran kepada pemerintah kedua negara yang mengklaim wilayah Nagorny Karabakh, seperti dilansir dari BBC pada Kamis (1/10).
Pada Rabu, kantor Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, dia telah menelepon para menteri luar negeri Armenia dan Azerbaijan untuk mengatakan bahwa Rusia bersedia menjadi tuan rumah dialog penyelesaian sengketa.
Presiden Rusia Vladimir Putin membahas pertempuran itu dengan Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam panggilan telepon terpisah. Kedua pemimpin itu mengulangi seruan kekuatan dunia untuk gencatan senjata segera di sana.
Rusia adalah bagian dari aliansi militer Armenia dan memiliki pangkalan militer di negara tersebut. Namun, ia juga memiliki hubungan dekat dengan pemerintah Azerbaijan.
Armenia mendukung republik Nagorny Karabakh yang dideklarasikan sendiri, tetapi tidak pernah secara resmi mengakuinya. Sehingga, tidak jelas apa yang memicu pertempuran kedua negara baru-baru ini.
Pada Rabu, Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev berjanji untuk terus berjuang sampai pasukan Armenia meninggalkan wilayah Nagorny Karabakh.
Adapun, Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu mengatakan kepada kantor berita Anadolu pada Rabu (30/9), Turki siap memberikan dukungan apapun kepada Azerbaijan dalam situasi di Nagorno-Karabakh. Menurut dia, Azerbaijan berperang di tanahnya sendiri, memerangi penjajah.
"Bantuan apa saja yang dibutuhkan Azerbaijan, kami siap (menyediakannya). Kami mengatakan, kami bersama-sama dengan Azerbaijan, baik di meja perundingan maupun di medan pertempuran. Itu bukan kata-kata kosong," tegasnya, seperti dilansir kantor berita TASS.
"PBB sebelumnya mengadopsi sejumlah resolusi (tentang masalah Nagorno-Karabakh), tetapi Armenia mengabaikan hukum internasional yang menyatakan mereka tidak ingin menyelesaikan masalah tersebut dengan cara diplomatik," ujarnya.
Sebelumnya, Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, yang berbicara melalui telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Selasa (29/9), menyatakan, saat ini dia tidak mempertimbangkan untuk meminta bantuan berdasarkan perjanjian keamanan pasca-Soviet.
Tetapi, tidak menutup kemungkinan untuk melakukannya. "Armenia akan memastikan keamanannya, dengan partisipasi dari Organisasi Traktat Keamanan Kolektif (CSTO) atau tanpa itu," katanya, seperti dikutip Reuters.
Pashinyan mengatakan, dia dan Putin belum membahas kemungkinan intervensi militer Rusia dalam konflik Nagorno-Karabakh.
Adapun, Prancis dan Turki pada Rabu (30/9), saling tuduh seiring dengan meningkatnya ketegangan internasional atas bentrokan sengit antara Azerbaijan dan pasukan etnis Armenia.
Mengutip Reuters, pada hari keempat pertempuran, Azerbaijan dan daerah kantong etnis Armenia di Nagorno-Karabakh saling melemparkan tuduhan bahwa pihak lain yang melakukan aksi menembak terlebih dulu di sepanjang garis kontak yang memisahkan mereka di pegunungan Kaukasus Selatan yang bergejolak.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Armenia, Shushan Stepanyan mengunggah tweet video ledakan besar dari tembakan artileri, disertai dengan musik yang dramatis yang bertuliskan 'Pengambilalihan posisi Azerbaijan'.
Sementara, Azerbaijan merilis rekaman yang menunjukkan pasukannya menembakkan tembakan roket ke markas musuh, serta asap abu-abu naik dari dalam Nagorno-Karabakh saat dihancurkan artileri Azeri.
Foto-foto yang diambil di kota Azeri Terter menunjukkan orang-orang berlindung di parit dan bangunan rusak yang menurut penduduk terkena peluru Armenia. (Kompas.com/tribunnews)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/vladimir-putin.jpg)