Jumat, 5 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Regional

Pengakuan Mahasiswa UGM Yogya Dipaksa Polisi Mengaku Jadi Provokator Demo, Ini Kata Kombes Purwadi

Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berinisial ARN (20) menyatakan dirinya ditangkap, dipukul berkali-kali

Tayang:
Editor: galih permadi
TRIBUNJOGJA.COM / Hari Susmayanti
Massa membakar benda-benda keras di tengah jalan Malioboro, Kamis (8/10/2020). 

TRIBUNJATENG.COM, YOGYAKARTA - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berinisial ARN (20) menyatakan dirinya ditangkap, dipukul berkali-kali, dan dipaksa mengaku menjadi provokator kericuhan demo menolak omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja pada Kamis (8/10/2020)

Wajah lebam-lebam, gagang kacamatanya patah, dan sempat di rawat di RS Bhayangkara.

“Kepala dan muka saya beberapa kali dipukul, sampai gagang kacamata saya patah,” kata ARN melalui keterangan tertulis yang diterima wartawan, Minggu (11/10/2020).

Ini Penjelasan BMKG dan LAPAN RI Soal Heboh Fenomena Lintang Kemukus, Mitos Pagebluk Akan Hilang

Diduga Ada Mobil Pemasok Bom Molotov saat Demo Tolak UU Ciptaker, Polisi Periksa CCTV

Bendungan Colo Sukoharjo Jadi Spot Mancing Tiap Oktober, 1 Orang Bisa Dapat 30 Kg Ikan

Kisah Kambing Pak Kades Gagalkan Aksi Pencurian Bikin Pencuri Babak Belur

Dalam keterangan tertulis tersebut, Direktur Kemahasiswaan UGM Suharyadi disebut sempat menjenguk ARN di Rumah Sakit Bhayangkara Yogyakarta, Jumat.

Saat itu, selang infus dan oksigen masih terpasang di tubuh ARN. Dirinya mengaku masih merasa sesak napas akibat tendangan.

Wajahnya juga lebam karena terkena pukulan.

ARN bercerita, saat demo berlangsung, dirinya datang terlambat.

Ia menyusul kawan lain yang sudah jalan dari bundaran UGM menggunakan sepeda motor.

ARN membawa dua kardus air minum yang akan dibagikan kepada rekannya.

Selanjutnya, ARN berada di baris depan bersama demonstran lainnya.

Ketika dia berada tepat di depan Gedung DPRD, tiba-tiba kembali terjadi kericuhan akibat aparat terprovokasi oleh demonstran.

“Empat personel diganggu massa, saya yakin anak SMA atau SMK.

Satu personel terprovokasi, kebetulan posisi saya pas di belakang personel itu.

Mulai bentrok dan ricuh, saya ikut mundur bersama polisi, saya masuk ke aula DPRD,” kata ARN.

Saat berlindung, ARN didatangi oleh salah satu aparat dan mulai diinterogasi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved