Anisa: Mengasuh Anak Harus dilakukan Kedua Orangtua
Puspaga Jateng banyak temukan permasalahan bahwa anak lebih patuh terhadap salah satu orangtua dalam hal ini ibu.
Penulis: Mahfira Putri Maulani | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Puspaga Jateng banyak temukan permasalahan bahwa anak lebih patuh terhadap salah satu orangtua dalam hal ini ibu dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini muncul akibat ayah dianggap kurang andil dan dekat dengan sang anak.
"Fenomena yang ada bisa kita temui Puspaga biasanya dilatar belakangi anak lebih cenderung menurut ke salah satu orangtuanya dalam ini ibu. Dengan alasan ayah kurang andil terhadap dirinya dan ada beberapa ayah merasa perannya memang di luar rumah yakni untuk bekerja," kata Anisa, salah satu konselor di Puspaga Jateng, Sabtu (18/10/2020).
Dengan kondisi seperti ini, lanjut Nisa anak merasa tidak nyaman jika berada di rumah dan mereka menjadi lebih nyaman ketika berada di luar dan bercerita kepada orang lain.
Bermain dengan teman-teman dimana pergaulan tidak bisa dikendalikan dan diawasi 100% oleh orang tua akhirnya sang anak terjadilah perubahan perilaku. Padahal permasalahan utama ialah terjadi kesalahan komunikasi orangtua ke anak (miss communication).
Hal itu ia sampaikannya ketika berbincang Peran Orang Tua yang Diharapkan Anak bersama Abdul Aziz Dosen Psikologi Unnes di live Instagram akun @puspaga.jateng.
Menanggapi hal tersebut, laki-laki yang kerap disapa Aziz ini mengatakan tidak ada kesepakatan komunikasi dalam mengkondisikan anak-anak dalam sebuah keluarga.
Aziz yang juga Kepala Laboratorium Psikologi Unnes ini mengatakan yang perlu dibangun pertama dalam sebuah keluarga adalah budaya keluarga.
"Otoritatif komunikasi misalnya, tipe pendidikan kepada anak. Orangtua punya power kepada anak dan memiliki budaya yang telah disepakati oleh ayah ibu."
"Ada otoritas tersendiri dirumah, ada habits yang dibangun misal setelah magrib televisi dimatikan. Saya sering di tanya anak saya kenapa keluarga sebelah boleh menghidupkan televisi, inilah sebuah habits setiap keluarga," terang Aziz.
Meskipun terkesan otoritatif dalam sebuah keluarga, orangtua harus membuat ruang yang lebih ke anak untuk sekedar mengobrol. Dia mengatakan ada beberapa yang beranggapan orangtua harus menjadi teman, namun akhirnya anak tidak punya sosok orangtua sehingga butuh sedikit otoritas.
Usia 0-3 tahun dikatakan Aziz menjadi masak emas karena anak memiliki lebih dari 1000 sek untuk mengingat pengalaman dari berbagai indra-nya.
Tiga tahun pertama anak akan dibanjiri pengalaman indra yang diterima anak dari orangtua sehingga rangsangan dari ayah dan ibu yang tidak pernah sepakat bisa menjadi masalah.
"Sebuah perkawinan ada konseling pra nikah, mental dan jiwa orangtua butuh check up setidaknya sebulan sekali seperti membuat kesepakatan yang nyata utnuk mendidik anak setiap bulan setidaknya," katanya.
Setelah anak memasuki 3 sampai 6 tahun anak akan mulai memilah pengalaman-pengalaman yang dirinya terima dari orangtua dan sekelilingnya sehingga anak akan lebih membutuhkan kejelasan dari orangtua.
Aziz mengatakan anak-anak akan menaruh kepercayaan terhadap orang apabila orang tersebut berada pada ruang itu ketika anak melakukan suatu hal. Sehingga banyak anak yang lebih percaya pada guru dibandingkan orangtua karena anak merasa sangat bermakna ketika bersama guru.