Mega Tsunami Ancam Alaska Akibat Pencairan dan Longsor Es
Ancaman tsunami jauh lebih besar muncul akibat mencairnya es di kutub bumi. Bahkan, bencana tsunami itu bisa dalam skala besar atau mega tsunami.
TRIBUNJATENG.COM, LOS ANGELES - Pantai Alaska Amerika Serikat (AS) terancam bencana tsunami besar. Peringatan tsunami dikeluarkan pada Senin (19/10), setelah gempa 7,5 magnitudo mengguncang lepas pantai Alaska.
Namun, ancaman tsunami jauh lebih besar muncul akibat mencairnya es di kutub bumi. Bahkan, bencana tsunami itu bisa dalam skala besar atau mega tsunami. Pemanasan global dan perubahan iklim kian mengkhawatirkan, sebab berkontribusi besar terhadap mencairnya lapisan-lapisan es di kutub Bumi, termasuk Alaska.
Sekelompok ilmuwan telah memperingatkan tentang prospek bencana yang akan datang di Prince William Sound, dalam surat terbuka pada Mei lalu, yang ditujukan kepada Alaska Department of Natural Resources (ADNR).
Dikutip dari Science Alert, Senin (19/10), tsunami dahsyat di Alaska, menurut ilmuwan, dipicu longsoran batu yang tidak stabil setelah pencairan gletser yang kemungkinan besar akan terjadi dalam dua dekade mendatang. Bahkan, mereka khawatir hal itu dapat terjadi dalam 12 bulan ke depan.
Meskipun potensi risiko longsor semacam itu sangat serius, masih banyak yang tidak diketahui tentang bagaimana atau kapan bencana itu bisa terjadi. Namun yang jelas, para ilmuwan menyebut pencairan gletser (glacier retreat) di Prince William Sound, di sepanjang pantai selatan Alaska, tampaknya berdampak pada lereng gunung di atas Barry Arm, sekitar 97 km di timur Anchorage.
Ahli geofisika, Chunli Dai, dari Ohio State University, mengatakan, berdasarkan ketinggian endapan di atas air, volume tanah yang tergelincir, serta sudut kemiringan, dia menghitung keruntuhan tersebut setidaknya akan melepaskan 16 kali lebih banyak puing, dan 11 kali lebih banyak energi daripada longsor yang terjadi di Teluk Lituya di Alaska pada 1958 dan mega tsunami.
Apabila perhitungan tersebut tepat, akibatnya mungkin tidak terpikirkan. Sebab, seperti peristiwa yang terjadi di Alaska pada 1958, pernah disamakan saksi mata dengan ledakan bom atom. Peristiwa itu sering dianggap sebagai gelombang tsunami tertinggi di zaman modern, dengan ketinggian maksimum 524 meter.
Kerusakan lereng di Alaska yang jauh lebih baru tercatat pernah terjadi pada 2015 di Taan Fiord, di sebelah timur, yang menghasilkan tsunami setinggi 193 meter.
Kerusakan itu disebabkan berbagai hal. Pemicunya beragam, seringkali hujan lebat yang berkepanjangan, gempa bumi, serta cuaca panas yang dapat mendorong pencairan permafrost, salju atau es gletser.
Sementara, peringatan tsunami pasa Senin (19/10) akibat gempa mencakup sebagian besar pantai selatan di negara bagian tersebut, termasuk Semenanjung Alaska yang berpenduduk sedikit, menurut National Oceanic and Atmospheric Administration.
Zona rawan saat ini membentang ratusan kilometer arah timur laut ke Cook Inlet, sampai dekat Anchorage, kota terbesar di sana, yang terletak di ujung teluk. "Tingkat bahaya tsunami sedang dievaluasi," kata National Oceanic and Atmospheric Administration memperingatkan, dikutip dari AFP.
Pusat gempa bumi berada sekitar 92 km dari kota kecil Sand Point dengan kedalaman 40 km, ujar Survei Geologi AS (USGS). Ada kemungkinan kecil korban dan kerusakan dari gempa itu, tambah keterangan USGS.
Gempa besar itu diikuti setidaknya empat gempa susulan 5,0 magnitudo atau lebih tinggi. Guncangan juga terasa di dekat King Cove, tapi semuanya tampak masih utuh, menurut administrator kota, Gary Hennigh, kepada Anchorage Daily News.
"Warga dan pekerja pengalengan dievakuasi ke tempat yang lebih tinggi sampai kami mendapat info lebih lanjut tentang peringatan tsunami," imbuh Hennigh.
Sementara itu, Michael Ashley, penduduk Cold Bay, mengatakan, gempa itu membuat barang-barang di rumahnya bergerak. "Semua sofa, kursi santai, dan rak buku bergerak, dan saya harus memegangi salah satunya," terangnya kepada Anchorage Daily News. (Kompas.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/tsunami-di-jawa-menurut-hasil-riset-itb.jpg)