Teknologi
Temukan Air Lagi, NASA Makin Yakin Akan Bisa Bangun Pangkalan di Bulan
Badan antariksa Amerika Serikat ( NASA) kembali membuktikan adanya air di satelit alami Bumi, Bulan. Deteksi molekul air tersebut meningkatkan harapa
TRIBUNJATENG.COM - Badan antariksa Amerika Serikat ( NASA) kembali membuktikan adanya air di satelit alami Bumi, Bulan.
Deteksi molekul air tersebut meningkatkan harapan NASA untuk membangun pangkalan di Bulan, sebagai misi eksplorasi ruang angkasa di masa yang akan datang.
Dikutip dari BBC, Rabu (28/10/2020), tujuan eksplorasi tersebut adalah untuk memastikan keberlangsungan pangkalan ruang angkasa ini dengan memanfaatkan sumber daya alam di Bulan.
Sebelumnya, tanda-tanda air di Bulan telah dilaporkan NASA, berada di bagian kawah bulan.
Baca juga: PBNU: Presiden Prancis Gelorakan Islamophobia, Berdampak Pada Perdamaian Dunia
Baca juga: Seusai Berhubungan Badan, Pria di Grobogan Tindih Dada Selingkuhan hingga Tewas Dalam Hotel
Baca juga: Prancis Ingatkan Warganya yang Tinggal di Negara Mayoritas Muslim Untuk Waspada
Baca juga: Refly Harun Siap Diperiksa Bareskrim Soal Dugaan Ujaran Kebencian Oleh Sugi Nur
Baca juga: Habib Bahar bin Smith Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan Lagi, Kali Ini pada Sopir Taksi Online
Namun, pada penemuan baru ini, ilmuwan melaporkan molekul air terdeteksi di permukaan Bulan yang mendapat sinar matahari.
Kedua laporan tentang keberadaan air tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Astronomy.
Casey Honniball yang juga rekan pascadoktoral di NASA's Goddard Space Flight Center di Maryland, dalam telekonferensi virtual mengatakan, "Jumlah air kira-kira setara dengan sebotol air ukuran 12 ons dalam satu meter kubik tanah bulan,".
Kendati demikian, Jacob Bleacher, dari direktorat eksplorasi manusia NASA mengatakan para peneliti masih harus memahami sifat endapan berair tersebut.
Penemuan air di Bulan ini akan membantu mereka menentukan seberapa mudah materi tersebut dapat diakses dan digunakan dalam penjelajahan bulan di masa depan.
Selain itu, penemuan baru ini juga menunjukkan jumlah air di Bulan yang berada di permukaan ternyata lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya.
"Ini memberi kita lebih banyak pilihan untuk sumber air potensial di Bulan. Lokasi pangkalan Bulan sebagian besar difokuskan di mana air berada," kata Hannah Sargeant, ilmuwan planetologi dari Open University di Milton Keynes kepada BBC News.
Teleskop infra merah tangkap keberadaan air
Misi NASA ke Bulan untuk mengirimkan perempuan pertama dan astronot pria berikutnya, rencananya akan dilakukan pada tahun 2024 mendatang.
Sedangkan misi eksplorasi manusia di Mars akan dilakukan pada awal tahun 2030.
Dr Sargeant menjelaskan bahwa itu artinya mengembangkan cara yang lebih berkelanjutan dalam melakukan eksplorasi ruang angkasa, yang sebagian dari itu menggunakan sumber daya lokal yang ada di bulan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/ilustrasi-misi-ke-bulan-nasa-kembali-menemukan-bukti-keberadaan.jpg)