Rabu, 27 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Fokus

Gusti Mboten Sare

Kalimat “Gusti mboten sare” tidak hanya “milik” mereka yang mendapat ketidakadilan tetapi berlaku untuk semua orang, yang percaya adanya Tuhan.

Tayang:
Penulis: rustam aji | Editor: moh anhar
TRIBUN JATENG
Fokus Tribun Jateng 14 Desember 2020 

Gusti mboten sare. Gusti ora turu. Kalimat tersebut sudah familiar di telinga kita. Atau bahkan kita pernah mengucapkannya. Kalimat dalam Bahasa Jawa tersebut kurang lebih bila dibahasa-Indonesiakan menjadi “Tuhan tidak tidur”.

Kalimat tersebut biasanya diucapkan sebagai bentuk “kepasrahan” manusia karena tidak bisa atau tidak berani melakukan tindakan apa pun ketika melihat ketidakadilan atau kezaliman, baik itu yang menimpa diri sendiri, keluarga, saudara, atau orang lain yang tentu memiliki empati terhadapnya. Sehingga, keputusan “balasan” ini kemudian diserahkan kepada Tuhan. Dan, diyakini bahwa suatu saat (dalam waktu dekat atau lama), Tuhan pasti akan “menghukum” terhadap orang atau pihak yang telah berbuat zalim tersebut. Sebab Tuhan Maha adil dan melihat segala perilaku hambanya.

Dalam konteks yang lebih luas, kemasyarakatan atau kenegaraan, kalimat tersebut juga sering diucapkan oleh mereka yang mendapat ketidakadilan di masyarakat ataupun lingkup lebih luas seperti oleh negara. Sebagai negara “Berketuhanan Yang Maha Esa”, hal itu tentu sangat lazim, mengingat seluruh warga adalah orang beragama yang meyakini adanya Tuhan. Sehingga bila sesuatu masalah tidak bisa diselesaikan sendiri, maka kemudian “dipasrahkan” kepada Tuhan.

Baca juga: Rebut Lenga Tala

Baca juga: Salshabilla Adriani Kecelakaan di Kemang, Sempat Kabur Namun Berhasil Diamankan Warga

Baca juga: Aturan Kepesertaan BPJS Kesehatan bagi Anak Usia 21 Tahun

Namun, sebenarnya bila dipahami lebih mendalam, kalimat “Gusti mboten sare” tidak hanya “milik” mereka yang mendapat ketidakadilan tetapi berlaku untuk semua orang, yang percaya adanya Tuhan. Di mana Tuhan tidak hanya dibutuhkan saat kita susah saja, tetapi juga saat bahagia tetap merasakan kehadiran Tuhan. Tuhan bukan sekadar hanya untuk lips service agar kita dianggap sebagai orang yang agamis, namun memang benar-benar memperlakukan Tuhan sebagai orang yang beragama, yakni senantiasa menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya. Lebih spesifik lagi, takut akan hukuman Tuhan.

Bila hal tersebut dipraktikkan dalam bentuk kehidupan yang sesungguhnya, maka bisa dipastikan tidak ada yang namanya perbuatan menzalimi orang lain atau berbuat yang dapat merugikan orang banyak.

Nah, dalam konteks pejabat negara, hendaklah bisa memegang amanat dengan betul-betul mengingat pesan bijak “Gusti mboten sare” ini. Artinya, tindakan dan perilaku pejabat akan selalu dipantau oleh Tuhan sehingga tidak berani berbuat semena-mena terhadap rakyatnya.

Pilkada serentak 2020 baru saja usai digelar. Di Jawa Tengah, ada 21 daerah kabupaten dan kota yang menyelenggarakan pilkada. Kini, sudah diketahui siapa saja yang mendapat amanat untuk memimpin daerah masing-masing hingga 2024 mendatang. Kepercayaan masyarakat hendaklah betul-betul dilaksanakan sesuai dengan janji-janji kampanyenya, bukan sekadar lips service semata.

Bila hingga saat ini kita masih menyaksikan bentuk kezaliman atau perbuatan yang merugikan orang banyak, seperti umpama perilaku korup, maka semoga saja tidak akan terjadi pada para pemimpin daerah yang baru saja terpilih di Pilkada serentak 2020. Sebab, sebagaimana kata bijak di atas, Gusti ora turu. Segala perilaku dan tindakan akan selalu ada yang memantau yakni Tuhan.

Baca juga: KNPB Tebar Teror di Papua Barat, Bunuh Warga lalu Sebarkan Foto Bersama Mayat Korban

Baca juga: Resep Selai Nanas Untuk Olesan Roti Tawar

Baca juga: 22 Tahun Menikah, Rohimah Istri Pertama Kiwil Kini Ajukan Gugat Cerai

Yakinlah bahwa kepercayaan (amanat) yang diberikan rakyat lebih berharga ketimbang Anda menumpuk harta dari hasil korupsi atau berbuat zalim. Sebab sepandai-pandai orang menyimpan bangkai, aroma (busuk)-nya pasti akan tercium juga. Sepandai-pandai Anda menutupi perilaku jahat, pada akhirnya akan terbongkar juga. Ingat, Tuhan tidak tidur! (Rustam Aji, wartawan Tribun Jateng)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved