Breaking News:

Fokus

Rebut Lenga Tala

Serupa lenga tala, vaksin menjadi harapan jutaan orang Indonesia untuk menjadi "sakti" dan tidak mempan keganasan corona.

TRIBUN JATENG
Opini Tribun Jateng 15 Desember 2020 

TRIBUNJATENG.COM - Syahdan, sebelum meninggal dunia, Pandu Dewanata sudah menitipkan pusakanya, Cupu Lenga Tala, kepada sang kakak, Drestarastra. Dia meminta kelak cupu berikut isinya, minyak tala, itu diserahkan kepada para Pandawa ketika mereka dewasa.

Cupu Lenga Tala merupakan pusaka sakti pemberian dewata. Dewa menghadiahi Pandu karena telah menaklukkan Nagapaya, yang hendak memporakporandakan khayangan. Konon, minyak itu bisa membuat sakti siapa pun, menjadikan pemiliknya kebal aneka senjata.

Rupanya, harapan Pandu agar Lenga Tala jatuh ke tangan pewarisnya tak berjalan sesuai rencana. Beberapa tahun kemudian setelah kematian Pandu, justru minyak itu menjadi bahan rebutan antara para Pandawa dan Kurawa, yang rupanya juga menginginkannya.

Dretarastra pun judeg. Di satu sisi, dia tahu benar bahwa Lenga Tala merupakan amanah yang harus sampai pada yang berhak. Di sisi lain, para Kurawa tak lain darah dagingnya.
Kemudian Drestarastra memutuskan untuk melemparkan Cupu Lenga Tala itu sejauh-jauhnya. Pandawa dan Kurawa sigap bersiaga menangkapnya.

Baca juga: Resep Kastengel Kue Kering Gurih dan Lembut

Baca juga: Aturan Kepesertaan BPJS Kesehatan bagi Anak Usia 21 Tahun

Baca juga: Bingung Melintas di Jalanan Kota Semarang, Mana Saja Lokasi Jalan Protokol yang Ditutup? 

Sengkuni, yang diam-diam juga mengincar minyak tala, lebih dahulu menyenggol tangan Drestarastra, yang hendak melemparkan pusaka tersebut. Tentu saja, sebagian minyak tumpah dari dalam cupu. Tumpahan minyak tala itu membuat lantai istana Astinapura berkilat-kilat. Mata Sengkuni pun tak kalah berkilat-kilat.

Kemudian, tanpa menunda-nunda kesempatan, Sengkuni segera mencopot pakaiannya. Dia kemudian berguling-guling di lantai yang basah oleh minyak tala. Ya, dia memang berniat melumuri seluruh tubuhnya dengan minyak sakti tersebut.

Apa yang terjadi? Minyak tala memang pusaka sakti para dewa. Walhasil, meski ilmu bela diri Sengkuni terbilang rendah, setidaknya jika dibandingkan dengan para ksatria Kurawa--apalagi Pandawa--tidak ada satu pun senjata yang mampu menembus kulitnya.

Kisah Cupu Lenga Tala itu, entah mengapa, serta merta melejing ke kepala saya di tengah kabar keberadaan vaksin Covid-19. Serupa lenga tala, vaksin itu menjadi harapan jutaan orang Indonesia untuk menjadi "sakti" dan tidak mempan keganasan corona.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor H.K.01.07/Menkes/9860/2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin untuk Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disease (Covid-19), Indonesia menetapkan enam jenis vaksin Covid-19, yakni PT Bio Farma (Persero), Astrazeneca, China National Pharmaceitical Group Corporation (Sinopharm), Moderna, Pfizer and Biontech, dan Sinovac Biotech Ltd. Vaksin Sinovac gelombang pertama sebanyak 1,2 juta dosis vaksin Covid-19 sudah tiba di Indonesia, pada 6 Desember 2020 lalu.

Nantinya, ada warga yang bisa mendapatkan vaksin secara gratis, tetapi ada juga yang harus membayar secara mandiri. Vaksin-vaksin tersebut dibanderol paling murah Rp 57 ribu per dosis, tetapi ada pula yang harus ditebus seharga Rp 2,15 juta untuk dua kali suntikan.

"Halah, paling Sampean ya milih gratisan," tiba-tiba Dawir, sedulur batin saya, nyeletuk dari balik tengkuk.
Juru Bicara Program Vaksinasi yang juga Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, Pemerintah tak bisa menggratiskan vaksin Covid-19 karena persoalan anggaran. Kemudian, Pemerintah memutuskan untuk memberikan vaksin gratis kepada warga yang diprioritaskan, yakni berusia 18-59 tahun. "Sebanyak 32 juta orang akan ditanggung pemerintah, mereka berusia 18-59 orang, dan 75 juta orang lainnya lewat program mandiri," kata Siti, Minggu (13/12/2020).

Baca juga: Catherine Wilson Sempat Sakau saat Jalani Rehabilitasi

Baca juga: Sambut Pembelajaran Tatap Muka

Baca juga: Alami Kecelakaan Beruntun, Salshabilla Adriani Tabrak Dua Mobil

Dia menjelaskan, kelompok sasaran penerima vaksin gratis itu adalah tenaga kesehatan beserta petugas yang ada dalam fasilitas pelayanan seperti petugas pembersih APD dan pembuang limbah medis. Kemudian, pekerja di pelayanan publik, anggota Polri-TNI, Satpol PP, kelompok masyarakat rentan dan kurang mampu.
"Nek perlu, Sampean kudu wani nyenggol, kaya Sengkuni, Kang. Ben kumanan vaksin," Dawir menyindir lagi. (Achiar M Permana, wartawan Tribun Jateng)

Penulis: achiar m permana
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved