Breaking News:

Pendidikan

Adib Kritik Kampus PTKI Jangan Cuma Hasilkan Ijazah

Kampus Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dituntut dapat merespons tantangan kekinian.

Istimewa
KKN UIN Walisongo Semarang mengadakan kegiatan festival Anak Sholeh yang diiikuti oleh anak-anak warga desa Ngadirejo Sumber Simo.29 Oktober 2020 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kampus Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dituntut dapat merespons tantangan kekinian, sekaligus bisa memprediksi dan menyelesaikan tantangan umat di masa depan. Hal ini disampaikan oleh Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Kemenag M. Adib Abdushomad dalam webinar International Collaboration Series, pada Selasa (15/12/2020).

Webinar ini diikuti sejumlah Wakil Rektor PTKI bidang Akademik dan Kerjasama, Direktur Pascasarjana, serta akademisi dari PTKI negeri dan swasta. 
Adapun narasumber dalam webinar ini adalah Guru Besar dari Western Sydney University (WSU) Australia, James Arvanitakis. 

Maka dari itu, kata Adib, kampus di PTKI juga harus memperkuat keterampilan teknis para mahasiswa di masa mendatang. "Pengalaman kerja selama di universitas (PTKI) perlu dipersiapkan, agar mahasiswa memiliki skill dan knowledge yang transferable dan applicable di mana saja, sebagaimana model kampus merdeka belajar saat ini," ucap Kasubdit Kelembagaan dan Kerjasama Kemenag M. Adib Abdushomad, seperti dikutip Kompas.com, Rabu (16/12/2020). 

Intinya, kata dia, jangan sampai kampus PTKI hanya berorientasi mencetak selembar ijazah semata, tanpa diikuti kompetensi yang memadai. "Untuk menghindari hal itu, pimpinan PTKI harus memperkuat skills and knowledge mahasiswa," jelas dia. 

Tiga masalah  
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Suyitno menyoroti tiga masalah di dunia perguruan tinggi, yakni sumber daya manusia (SDM), kurikulum, dan kelembagaan (institusi). Ketiga aspek ini merupakan masalah umum yang banyak dihadapi perguruan tinggi di berbagai belahan dunia saat ini. 

Oleh karena, bilang Suyitno, Perguruan Tinggi harus mampu memaksimalkan SDM, serta mampu mendesain kurikulum sesuai konteks zamannya, dan tidak kalah penting adalah penguatan Institusi. 

"Itulah kenapa saat ini Kemenag menyelenggarakan program 5.000 doktor dalam rangka penguatan SDM, baik dalam maupun luar negeri, serta program peningkatan akreditasi lembaga," tutur Suyitno. 

James Arvanitakis menambahkan, perguruan tinggi perlu menciptakan mahasiswa yang mampu berpikir kritis, pekerja keras, dan dapat bekerja sama, agar mereka memiliki banyak keterampilan.

"Untuk menciptakan generasi atau mahasiswa yang banyak keterampilan ini, maka perlu desain pembelajaran yang kontekstual, karena perubahan akan terus ada," pungkas dia. (*)

Penulis: -
Editor: moh anhar
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved