Rabu, 29 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

WHO: Mutasi Virus Itu Normal

Varian baru suatu virus dinilai sebagai hal yang normal dari evolusi pandemi, di mana hal itu tidak di luar kendali.

Tayang:
Editor: Vito
Tribunnews.com
Ilustrasi virus 

TRIBUNJATENG.COM, JENEWA - Seiring dengan bertambahnya daftar negara yang memberlakukan pembatasan perjalanan di Inggris, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berusaha memberikan pemahaman terkait dengan risiko varian baru virus corona.

Kepala Kedaruratan Kesehatan WHO, Mike Ryan mengatakan, varian baru suatu virus adalah bagian normal dari evolusi pandemi, dan itu tidak di luar kendali.

Hal itu bertentangan dengan pernyataan Menteri Kesehatan Inggris, Matt Hancock, yang menggunakan kata-kata itu pada Minggu (20/12) lalu.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Matt Hancock memperingatkan bahwa varian baru dari virus itu lebih mudah menular dan semakin tidak terkendali.

Varian baru itu telah menyebar dengan cepat di Kota London dan wilayah tenggara Inggris. Namun, pejabat kesehatan mengatakan tidak ada bukti galur baru itu lebih mematikan atau akan bereaksi berbeda terhadap vaksin.

Ryan justru memberikan pandangan positif pada penemuan strain baru covid-19 itu, dengan mengatakan alat baru untuk melacak virus berfungsi.

"Kita harus menemukan keseimbangan. Sangat penting untuk memiliki transparansi, sangat penting untuk memberi tahu publik seperti apa adanya, tetapi penting juga untuk menyampaikan bahwa ini adalah bagian normal dari evolusi virus," paparnya, dalam arahan online seperti yang dikutip Reuters.

“Mampu melacak virus sedekat ini, dengan hati-hati, secara ilmiah dalam waktu singkat merupakan perkembangan positif yang nyata bagi kesehatan masyarakat global, dan negara yang melakukan jenis pengawasan ini harus dipuji,” ujarnya.

Ryan menyatakan, negara-negara yang memberlakukan pembatasan perjalanan bertindak karena sangat berhati-hati saat menilai risiko. “Itu bijaksana. Namun penting juga bagi setiap orang untuk mengetahui bahwa ini terjadi, varian ini muncul."

Pejabat WHO mengungkapkan, mutasi virus corona sejauh ini jauh lebih lambat dibandingkan dengan influenza, dan bahkan varian baru Inggris tetap jauh lebih tidak dapat menular daripada penyakit lain seperti gondongan.

Menurutnya, vaksin yang dikembangkan untuk memerangi covid-19 juga harus menangani varian baru, meskipun pemeriksaan sedang dilakukan untuk memastikan ini masalahnya.

“Sejauh ini, meskipun kami telah melihat sejumlah perubahan, sejumlah mutasi, tidak ada yang membuat dampak signifikan, baik pada kerentanan virus terhadap terapi yang digunakan saat ini, obat-obatan, atau vaksin yang sedang dikembangkan,” papar Kepala Ilmuwan WHO, Soumya Swaminathan, dalam kesempatan yang sama.

WHO mengatakan, pihaknya mengharapkan untuk mendapatkan lebih banyak detail dalam beberapa hari atau minggu ke depan tentang potensi dampak dari jenis virus corona baru yang disebut sangat mudah menular itu.

Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus berujar, pihaknya telah bekerja sama dengan para ilmuwan untuk memahami bagaimana perubahan genetika itu berdampak pada cara virus itu berperilaku.

Ia menekankan bahwa mutasi virus corona bukan hal baru. "Virus-virus bermutasi setiap saat. Itu alami, dan sudah diperkirakan sebelumnya," ungkapnya.

Tedros menyebut, mencegah penyebaran virus itu secepatnya merupakan langkah yang sangat membantu. “Semakin lama kita biarkan virus menyebar, semakin besar peluang virus itu berubah,” tukasnya.

Dia menambahkan, pemerintah dan rakyat di seluruh dunia harus mengambil langkah pencegahan yang diperlukan untuk membatasi penularan virus corona. (Kontan.co.id/Kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved