Berita Internasional
FBI Diminta Tangani Perkara Rekaman Donald Trump Minta Suara di Georgia
Keduanya meyakini bahwa "Donald Trump terlibat dalam ajakan, atau bahkan berkonspirasi melakukan sejumlah kejahahatan dalam pemilihan".
TRIBUNJATENG.COM, WASHINGTON DC - Rekaman suara Presiden Donald Trump meminta suara di Georgia beredar luas.
Dua politisi Demokrat meminta Badan Penyelidik Federal ( FBI) turun tangan.
Ted Lieu dan Kathleen Rice, keduanya anggota DPR AS, menulis surat kepada Direktur FBI Christopher Wray agar pihaknya membuka investigasi kriminal.
Baca juga: Mbah Margono Solo Hilang, Tetangga Dengar Suara Rintihan, Ternyata Terjepit di Sela Rumah
Baca juga: Ancaman Irjen Pol Ahmad Luthfi Kapolda Jateng Jika Ada Kerumunan Penjemput Abu Bakar Baasyir
Baca juga: Sedang Belanja di Toko, Mahasiswa AS Ini Tiba-Tiba Ditawari Suntik Vaksin Covid-19 secara Acak
Baca juga: Jangan Mau Masuk Terminal Terboyo Semarang Lagi, Banyak Preman dan Calo Tiket: Pakai Terminal Resmi
Keduanya meyakini bahwa "Donald Trump terlibat dalam ajakan, atau bahkan berkonspirasi melakukan sejumlah kejahahatan dalam pemilihan".
Dalam rekaman yang dipublikasikan media AS, dalam percakapan telepon terdengar Trump mengeklaim tidak mungkin dirinya kalah di Georgia.
Selama pembicaraan berdurasi satu jam itu, Trump terdengar meminta Sekretaris Negara Bagian Brad Raffensperger mendapatkan 11.780 suara.
Dilansir Sky News Senin (4/1/2021), Lieu dan Rice menuliskan sejumlah kode etik yang dilanggar oleh presiden berusia 74 tahun itu.
Mereka berargumen bahwa si presiden berupaya menipu penduduk negara bagian di kawasan selatan dari pelaksanaan pemilu yang adil.
"Bukti pelanggaran pemilu yang dilakukan Tuan Trump terjadi di siang bolong. Elemen prima facie (kesan pertama) kejahatan sudah terlihat," ujar keduanya dalam surat.
Raffensperger mengungkapkan, sebenarnya dia enggan untuk menerima telepon dari presiden ke-45 AS tersebut pada Sabtu (2/1/2021).
Kepada ABC News, dia menuturkan dia yakin sebenarnya secara etika dirinya tidak berkepentingan untuk melakukan percakapan telepon dengan presiden.
"Namun dia memaksanya. Saya pikir dia memaksa salah satu staf untuk menelepon dan menghubungkan saya dengannya," kata Raffensperger.
Si sekretaris asal Partai Republik itu mengatakan, selama pembicaraan dirinya lebih banyak mendengarkan dengan Trump paling mendominasi.
Raffensperger menjelaskan si presiden mengeklaim bahwa ada ratusan orang yang sudah meninggal ternyata memberikan suaranya.
"Namun di data kami, fakta sebenarnya adalah dua. Ini menunjukkan dia mempunyai basis data yang sangat buruk," cemooh Raffensperger.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/presiden-amerika-serikat-donald-trump-saat-berkampanye-di-bok-center.jpg)