Berita Kudus

Jam Kerja Buruh Rokok Sukun Dikurangi Hingga Empat Jam untuk Hindari Risiko Kelelahan

Pabrik Rokok (PR) Sukun mulai menerapkan pemangkasan jam kerja untuk mencegah terjadinya kelelahan hingga membuat daya tahan tubuh buruhnya rentan ter

Penulis: raka f pujangga | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/Raka F Pujangga
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kudus, HM Hartopo, didampingi ?Corporate Secretary PR Sukun, Deka Hendratmanto meninjau penerapan protokol kesehatan, di PR Sukun Kudus, Rabu (13/1/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Pabrik Rokok (PR) Sukun mulai menerapkan pemangkasan jam kerja untuk mencegah terjadinya kelelahan hingga membuat daya tahan tubuh buruhnya rentan terhadap Covid-19.

‎Corporate Secretary PR Sukun, Deka Hendratmanto menjelaskan, pemangkasan jam kerja itu sudah dilakukan sejak bulan Desember 2020.

Upaya tersebut dilakukan karena melihat tren kasus Covid-19 yang terus mengalami kenaikan.

Baca juga: Pelayanan Puskesmas Kerjo Karanganyar Ditutup Total Setelah 32 Pegawai Positif Covid-19

Baca juga: Tim Gabungan Bubarkan PKL yang Nekat Buka Setelah Jam 21.00 di Kota Semarang

Baca juga: Kemenag Jateng Gandeng GP Ansor Perkuat Moderasi Beragama di Masyarakat

Baca juga: Jokowi Usulkan Satu Nama Calon Kapolri Ke DPR, Komjen Listyo Sigit Prabowo

"Tujuannya untuk menghindari pekerja kelelahan, sehingga daya tahan tubuhnya rentan terkena penyakit‎. Kami mengurangi jam kerja," ujar dia, saat menerima rombongan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), di PR Sukun Kudus, Rabu (13/1/2021).

Deka menjelaskan, pemangkasan jam kerja itu berlaku untuk pegawai kantor dan bagian operasional produksi.

Pemangkasan jam kerja tersebut sebanyak satu sampai empat jam setiap harinya, sehingga pegawai pulang lebih awal.

"Bagian office itu dipotong jam kerja 1-2 jam. Sedangkan operasional produksi dari 12 jam kerja menjadi delapan jam," ujar dia.

Hal itu pula membuatnya harus mengurangi shift kerja dari sebelumnya dua shift menjadi tiga shift.

Kemudian penerapan protokol kesehatan juga dilaksanakan secara ketat, setiap pekerja wajib menggunakan masker dan face shield.

Setiap meja produksi untuk melinting sigaret kretek tangan (SKT) juga diberi sekat agar tidak berdekatan satu sama lainnya.

"Memang imbasnya pada produksi yang semula setiap orang bisa membuat 6.000 batang. Selama pandemi ini jadi hanya 4.000 batang," jelas dia.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kudus, HM Hartopo mengapresiasi upaya PR Sukun untuk menerapkan sistem kerja dalam tiga shift yang sebelumnya hanya dua shift.

Apalagi, setiap pekerjanya tidak hanya menggunakan masker tetapi juga mengenakan face shield.

"Bagi saya ini nilai plus, pekerjanya pakai masker dan face shield. Mudah-mudahan tidak ada klaster di sini," ujar dia.

Menurutnya, tidak ada koreksi dalam penerapan protokol kesehatan yang dilaksanakan PR Sukun.

Penerapan physical distancing antar pekerja sudah dilaksanakan secara baik, termasuk sistem kerjanya.

"Semuanya harus ada pembatasan bagi pabrik besar sekalipun nanti akan kami tinjau ke sana," ujar dia.

Hartopo mengancam tak segan untuk menutup pabrik yang tidak menerapkan protokol kesehatan.

"Kalau sudah diberi peringatan tidak dihiraukan juga saya minta tutup sementara," ujar dia. (raf)

Baca juga: Viral Video Sopir Bus Sugeng Rahayu Ugal-ugalan di Madiun Nyaris Tabrak Mobil Arah Berlawanan

Baca juga: Video Detik-detik dari Dalam Pesawat Sriwijaya Air Jelang Take Off Kiriman Orangtua Sri

Baca juga: Longsor di Bumijawa Tegal Sempat Tutup Jalan, Dikhawatirkan Ada Susulan karena Tebing Retak

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved