Sabtu, 9 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Banjir di Pati

Banjir di Pati, 90 Kolam Lele dan 85 Hektare Sawah Terendam

Sejumlah desa yang berada di sekitar aliran sungai tergenang banjir. Di antaranya Desa Mustokoharjo Kecamatan Pati, Desa Mintobasuki Kecamatan Gabus

Tayang:
Penulis: Mazka Hauzan Naufal | Editor: m nur huda

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Curah hujan tinggi beberapa hari belakangan ini membuat Sungai Silugonggo di Pati meluap.

Akibatnya, sejumlah desa yang berada di sekitar aliran sungai tergenang banjir.

Di antaranya ialah Desa Mustokoharjo Kecamatan Pati dan Desa Mintobasuki Kecamatan Gabus.

Ketinggian air di kedua desa tersebut mencapai satu meter.

Selain wilayah permukiman, areal sawah dan kolam ternak lele juga ikut terendam dan mengakibatkan kerugian.

Di Desa Mustokoharjo, mayoritas warga berprofesi sebagai peternak ikan lele.

Mereka kini berada di bawah bayang-bayang kerugian akibat area tambak mereka sudah tergenang banjir.

Kepala Desa Mustokoharjo, Agus Supriyadi, mengatakan bahwa banjir di wilayahnya mulai mencapai puncaknya sejak Kamis (4/2/2021) dini hari lalu.

“Sebelumnya, di daerah tepian sungai malah sudah lebih dulu kebanjiran, sekitar satu minggu,” kata dia.

Menurutnya, sekira 170 rumah di Desa Mustokoharjo telah terendam banjir dengan ketinggian bervariasi. Paling tinggi mencapai 1,15 meter.

Agus mengatakan, sekitar 90 petak kolam lele sudah terendam banjir. Para peternak lele sudah hampir bisa dipastikan merugi.

“Potensi kerugian kalau (ikan lele) sudah siap konsumsi mencapai Rp 40-50 jutaan per petak,” kata dia.

Ia mengatakan, para peternak lele biasanya memasang jaring mengelilingi kolam apabila air banjir sudah mulai naik. Ini upaya untuk mengantisipasi kerugian, mencegah ikan keluar dari kolam.

“Tapi upaya itu juga tidak mejamin bisa aman,” kata Agus.

Teguh Jayadi, peternak lele di Desa Mustokoharjo, mengaku bahwa saat ini dirinya sedang dihantui rasa was-was. Sebab, akibat banjir ini, ia berada di ambang kerugian puluhan juta.

“Saya punya delapan kolam. Sekarang ini enam kolam yang paling saya khawatirkan,” kata dia.

Teguh mengatakan, ia sudah memasang jaring di sekeliling kolam-kolamnya. Jika upaya itu gagal, kerugian puluhan juga sudah menantinya.

“Kalau dari enam kolam itu, rugi bisa sampai Rp 50 juta,” kata dia.

Sementara, di Desa Mintobasuki Kecamatan Gabus, puluhan hektare sawah telah terendam banjir. 

Kepala Desa Mintobasuki Santoso menyebut, boleh dikatakan perekonomian warga telah lumpuh.

“Banjir sudah sekitar satu minggu. Sudah menyeluruh kena banjir, area permukiman sekitar 600 KK. Padi juga banyak tenggelam sehingga terjadi kelumpuhan ekonomi. Ketinggian bervariasi, paling tinggi satu meter,” kata dia.

Santoso menyebut, total area sawah di Desa Mintobasuki yang terendam banjir mencapai 85 hektare. Kerugian di setiap hektarenya diperkirakan sekira Rp 35 juta. 

“Mudah-mudahan banjir cepat surut. Tapi menjelang hari besar Imlek kemungkinan hujan malah tambah deras,” ucap dia.

Ia mengatakan, pihaknya sejauh ini belum menyediakan tenda pengungsian maupun dapur umum. Namun, ia terbuka jika ada pihak yang hendak membantu mengadakannya.

“Sementara ini masyarakat masih di rumah masing-masing. Mereka sudah punya tempat mengungsi di rumah, karena di sini rutin setiap tahun terjadi banjir,” jelas dia.

Santoso berharap, meski di tengah banjir ini, masyarakat tetap memperhatikan bahwa situasi pandemi Covid-19 belum berakhir.

“Semoga masyarakat tetap sehat,” harap dia. (mzk)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved