Breaking News:

Aksi Protes Kudeta Memburuk, KBRI Myanmar Siapkan Evakuasi WNI

Sejak 2 hari lalu Kementerian Luar Negeri RI telah menyiapkan persiapan darurat untuk berjaga-jaga, termasuk kemungkinan evakuasi WNI.

Editor: Vito
STR / AFP
Sebuah kendaraan polisi menembakkan meriam air untuk membubarkan pengunjuk rasa selama demonstrasi menentang kudeta militer di Nay Pyi Taw, Senin (8/2). Ratusan pengunjuk rasa anti-kudeta militer kembali turun ke jalan di kota Yangon, Myanmar. Protes kali ini memasuki hari ketiga aksi turun ke jalan selama sepekan terakhir. 

TRIBUNJATENG.COM, YANGON - Indonesia telah menyiapkan evakuasi bagi warga negara Indonesia (WNI) bila kondisi memburuk di Myanmar, di tengah demo puluhan ribu warga yang turun ke jalan-jalan menentang kudeta militer.

Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Iza Fadri, dalam pertemuan virtual dengan WNI pada Senin (8/2), mengatakan, sejak 2 hari lalu Kementerian Luar Negeri RI telah menyiapkan persiapan darurat untuk berjaga-jaga, termasuk kemungkinan evakuasi WNI.

"Evakuasi (akan dilakukan-Red) kalau situasi sudah anarkis, tak ada lagi hukum, dan pemerintah sudah tak bisa mengendalikan situasi lagi, tak ada lagi otoritas, dan WNI sudah tidak bekerja juga. Menurut saya lebih baik, evakuasi, itu yang bisa dijadikan patokan untuk evakuasi," katanya.

Iza juga mengimbau kepada WNI di Myanmar, yang perusahaannya tutup dan tak beroperasi lagi, untuk lebih baik kembali ke Indonesia. Rencana darurat yang telah disiapkan itu, menurut dia, termasuk beberapa aliternatif, menggunakan pelabuhan bila bandar udara tutup.

WNI di Myanmar tercatat sekitar 600 orang, dan sejauh ini sudah lebih dari 400 orang yang mendaftarkan diri melalui online di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yangon.

Iza menuturkan demonstrasi yang telah terjadi dalam beberapa hari ini terdengar dari kantor kedutaan, dan ia mengimbau warga Indonesia untuk tidak keluar rumah.

"Kami lihat (demo ini-Red) sangat masif. Kami imbau warga untuk tidak usah ikut. Pak Athan (atase pertahanan-Red) mengirim foto, ada orang yang pakai senjata panjang dari gedung tinggi (sniper dalam istilah militer-Red)," tuturnya.

Gerald Eman, ketua Kerukunan Indonesia Myanmar (KIM), WNI yang telah tinggal di negara itu selama 17 tahun, mengatakan, berdasarkan pengalamannya, demonstrasi di negara itu belum pernah diwarnai kerusuhan dan penjarahan.

"(Sejauh pengalaman saya-Red) karakternya (demonstrasi-Red) tak anakarkis. Kerusuhan, menjarah toko, dan lain-lain belum pernah kami lihat, kondisinya benar-benar politik," paparnya.

Cecep Yadi, WNI yang tinggal di pusat kota Yangon, menyatakan, dari apa yang dilihatnya dalam 3 hari terakhir ini, para demonstran tidak ada yang sampai merusak fasilitas umum.

"Mereka di sini tidak ada yang merusak fasilitas, menjarah toko, ataupun melawan aparat pengamanan. Semuanya berisik, berteriak, dan berorasi, tapi tidak ada yang takut," ucapnya.

"Tidak ada yang hanya menonton. Kalaupun tinggal di rumah, mereka akan diam di depan rumah, dan ikut mengangkat tangan tiga jari sebagai bentuk partisipasi demokrasi, dan ikut membagikan makanan dan minuman ke setiap orang yang lewat," paparnya.

"Berdasarkan dua hari kemarin, demo selesai pukul 20.00, dan mereka kembali ke rumah masing-masing, kemudian membuat suara bising selama kurang lebih 15 menit dengan memukul mukul alat alat dapur (panci atau wajan). Setelah itu sepi." tukasnya. (bbc)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved