Berita Nasional
Erick Thohir Ambil Langkah Ini untuk Selamatkan Garuda Indonesia dari Kerugian
Erick Thohir, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), terus melakukan pembenahan di tubuh maskapai Garuda Indonesia.
“Kita enggak mau misalnya dikotomi hanya Airbus, atau Boeing.
Tapi kita akah lihat strategi besar dari Airbus dan Boeing mana yang lebih baik untuk Garuda.
Sesuai dengan strategi Garuda. Jadi bukan lagi asal beli, asal sewa,” kata dia.
Oleh karena itu, Kementerian BUMN akan mengawal Garuda Indonesia untuk bernegosiasi langsung dengan pabrikan pesawat.
Hal ini dikakukan untuk mencegah ada praktik percaloan.
“Ini komitmen dari direksi, Komisaris dan kementerian kami. Kami tidak segan-segan mengawal tim Garuda terbang langsung ke AS negoisasi dengan Boeing atau dengan Airbus, supaya kita juga mengurangi adanya middle man, kita langsung saja transaksi dengan produsen pesawat yang hari ini juga kesulitan,” ungkapnya.
Pendiri Mahaka Media itu menginginkan dalam negoisasi pembelian atau penyewaan pesawat harus saling menguntungkan.
Rugi Rp 420 Per Tahun
Ucapan Erick ini pun diamini oleh Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra. Menurut Irfan, perusahaannya mengalami kerugian besar akibat mengoperasikan pesawat jenis Bombardier CRJ1000.
“Jadi memang tidak dapat dimungkiri selama 7 tahun mengoperasikan, tiap tahun secara rata-rata kita mengalami kerugian penggunaan pesawat CRJ1000 ini lebih dari 30 juta dollar AS (sekitar Rp 420 miliar kurs Rp 14.000) per tahun. Sementara sewa pesawatnya sendiri di angka 27 juta dollar AS,” ujar Irfan.
Irfan menambahkan, terminasi kontrak secara sepihak itu sudah dilakukan sejak 1 Februari 2021 kemarin.
Dengan langkah itu, manajemen Garuda Indonesia bisa melakukan penghematan kerugian yang ditimbulkan apabila pesawat itu baru dikembalikan pada 2027 mendatang.
“Apabila kita terminasi pada Februari kemarin sampai dengan akhir masa kontraknya, kita akan saving lebih dari 220 juta Dollar AS.
Ini upaya kita untuk menghilangkan, minimal mengurangi kerugian dari penggunaan pesawat ini di Garuda,” kata Irfan.
Selain itu, lanjut dia, pesawat CRJ1000 ini juga tak cocok dengan market Indonesia.