Breaking News:

WHO Perluas Penyelidikan ke Asia Tenggara untuk Cari Hewan Sumber Virus Covid-19

tim investigasi WHO ini sebenarnya bukan mencari lokasi namun jenis hewan yang menyebabkan virus ini muncul.

Editor: rustam aji
SHUTTERSTOCK/peterschreiber.media
Ilustrasi - virus Covid-19 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Epidemiolog Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman menanggapi rencana Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang akan memperluas cakupan wilayah investigasi asal mula munculnya virus corona (Covid-19) hingga ke kawasan Asia Tenggara. Ia menjelaskan, untuk kasus pandemi Covid-19, yang menjadi fokus investigasi adalah virus ini berasal dari hewan (zoonotic virus).

"Ya sebetulnya prinsip dalam merespons asal pandemi ya, pandemi itu kan untuk Covid-19 ini berasal dari hewan atau disebut dengan zoonotic virus ya," ujar Dicky, kepada Tribun, Senin (15/2).

Oleh karena itu, investigasi pun dilakukan untuk mengetahui hewan apa yang menyebabkan kemunculan virus ini, dan apa yang harus dipelajari banyak negara untuk mengantisipasi agar virus serupa tidak muncul di masa depan. "Nah untuk kita bisa mengendalikan pandemi, belajar dari satu pandemi (yaitu) mencegah artinya kan, merespons secara cepat termasuk antisipasi ya," jelas Dicky.

Dicky menekankan, tim investigasi WHO ini sebenarnya bukan mencari lokasi namun jenis hewan yang menyebabkan virus ini muncul. "Pandemi memang bukan asal usul dalam arti tempat sebenarnya, yang harus dicari tahu yaitu lebih tepatnya adalah melihat jenis hewan, hewan mana yang menjadi asal muasal dari SARS-CoV-2 ini," kata Dicky.

Selanjutnya, hal yang dilakukan adalah mencari hewan apa saja yang memungkinkan menjadi inang atau berperan sebagai perantara untuk menularkan virus ini ke manusia. "Kemudian hewan mana saja yang bisa menjadi perantara lainnya ya atau yang terinfeksi lainnya, yang artinya bisa berpotensi menjadi host atau inang lainnya," papar Dicky.

Upaya penelusuran ini, kata dia, dilakukan untuk menyempurnakan penyelidikan secara menyeluruh terhadap seluruh hewan yang terindikasi menjadi inang. Hal itu karena jika masih ada hewan yang bisa menjadi inang selain manusia, maka langkah eradikasi Covid-19 pun akan sulit dilakukan.

"Karena kita tidak akan bisa melakukan eradikasi atau menghapus Covid-19 ini kalau ternyata ada inang lain di luar manusia, dalam hal ini hewan," tutur Dicky.

Lebih lanjut Dicky menyebut bahwa dalam kelompok hewan pun masih banyak yang bisa menjadi inang virus ini. Sehingga investigasi ini diperlukan untuk memilah hewan mana saja yang memungkinkan terlibat dalam penyebaran virus.

Karena menurutnya, tidak mungkin untuk memusnahkan seluruh hewan. "Dan ternyata di hewan pun banyak yang bisa menjadi inang dari SARS-CoV-2 ini. Kan tidak mungkin memusnahkan hewan semua," jelas Dicky. Oleh karena itu, ke depannya, ia menilai pengelolaan kesehatan hewan harus menjadi perhatian khusus agar pandemi ini tidak kembali terulang di masa mendatang. "Artinya kita harus mengelola kesehatan hewan ini, sehingga tidak berpotensi menularkan kembali ke manusia," ujar Dicky.

Makanan Beku

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved