Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kesehatan

Terjebak Ilusi "Hampir Menang", Inilah Alasan Mengapa Judi Online Bikin Kecanduan

Judi online telah bertransformasi dari sekadar hiburan menjadi krisis kesehatan mental di era digital.

Penulis: Raf | Editor: raka f pujangga
TRIBUNJATENG/TITO ISNA UTAMA.
HANDPHONE - Ilustrasi satu di antara situs judol yang ada di layar ponsel. Judi online telah bertransformasi dari sekadar hiburan menjadi krisis kesehatan mental di era digital. 

TRIBUNJATENG.COM - Judi online telah bertransformasi dari sekadar hiburan menjadi krisis kesehatan mental di era digital.

Berbeda dengan kasino fisik, judi online menawarkan akses 24 jam tanpa henti langsung dari genggaman tangan.

Namun, di balik kemudahannya, terdapat mekanisme psikologis dan biologis yang dirancang khusus untuk membuat seseorang sulit melepaskan diri.

Baca juga: Sosok Anak Tega Mutilasi Ibu Kandung, Disebut Kecanduan Judi Online

Mengapa Judi Online Sangat Mencandu?

Kecanduan judi bukan sekadar masalah "kurang tekad" atau moralitas, melainkan adanya perubahan pada sistem saraf pusat.

1. Manipulasi Hormon Dopamin

Saat seseorang menang—atau bahkan hampir menang (near miss)—otak melepaskan dopamin dalam jumlah besar.

Dopamin adalah hormon pemberi rasa senang. 

Masalahnya, otak merekam sensasi ini dan menuntut dosis yang lebih tinggi setiap saat, sehingga pelaku judi terus bermain demi mengejar "euforia" yang sama.

2. Efek "Near Miss" (Hampir Menang)

Dalam algoritma judi online, seringkali muncul kondisi di mana simbol atau angka hampir membentuk kemenangan.

Otak manusia secara keliru menganggap ini sebagai tanda bahwa "kemenangan sudah dekat," padahal secara matematis setiap putaran adalah independen dan acak. Hal ini memicu rasa penasaran yang tak kunjung usai.

3. Kehilangan Sensasi Nilai Uang

Karena dilakukan secara digital (menggunakan saldo virtual atau top-up), pemain seringkali kehilangan kepekaan terhadap nilai uang asli.

Angka di layar ponsel tidak terasa seberat uang tunai di dompet, sehingga seseorang lebih berani mengambil risiko besar dalam waktu singkat.

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 1/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved