Rabu, 22 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

3 Demonstran Lagi Tewas Ditembak, Unjuk Rasa Myanmar Terus Membesar

setidaknya ada tiga demonstran tewas dalam pembubaran aksi tersebut, sementara 20 orang lain terluka.

Editor: Vito
STR/AFP
Pedemo Myanmar berlarian menyelamatkan diri dari tembakan polisi, saat berdemonstrasi menentang kudeta militer di Naypyidaw, pada Sabtu (26/2/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, NAY PYI TAW - Pasukan keamanan Myanmar semakin represif dan kembali menggunakan cara kekerasan dalam membubarkan aksi unjuk rasa anti-kudeta yang digelar Minggu (28/2).

Laporan AFP, setidaknya ada tiga demonstran tewas dalam pembubaran aksi tersebut, sementara 20 orang lain terluka saat pasukan keamanan bergerak di kawasan pantai selatan Dawei.

Baik tentara maupun polisi menembakkan peluru karet, gas air mata, dan meriam air demi membubarkan pengunjuk rasa yang kembali membanjiri jalanan. 

Pyae Zaw Hein, petugas penyelamat, menyatakan, ketiganya ditembak mati dengan peluru tajam. Sementara lainnya terluka akibat peluru karet.

"Mungkin ada lebih banyak korban juga, karena lebih banyak orang yang terluka terus berdatangan," katanya, seperti dikutip dari AFP.

Adapun, petugas keamanan di Yangon mulai membubarkan satu per satu kerumunan di pusat kota beberapa menit sebelum protes dimulai.

Menurut Amy Kyaw, seorang demonstran, polisi mulai melepaskan tembakan saat rombongannya tiba.

"Mereka tidak memberi peringatan apapun. Beberapa terluka, dan beberapa guru masih bersembunyi di rumah warga. Beberapa pengunjuk rasa dibawa pergi dalam mobil van polisi," tuturnya.

Polisi di Yangon bahkan melemparkan stun grenade alias granat kejut dan menembak ke udara pada Minggu sebagaimana dilansir Thomson Reuters Foundation News.

Pada Minggu, polisi telah siap dan berjaga-jaga menghadapi para demonstran di Yangon. Ketika para demonstran mulai berkumpul, polisi dengan cepat membubarkan massa.

"Polisi turun dari mobil mereka dan mulai melemparkan granat kejut tanpa peringatan," kata Hayman May Hninsi, bersama sekelompok rekan guru di Yangon.

Melihat granat kejut dileparkan, para demonstran membubarkan diri dan melarikan diri ke gedung terdekat. "Beberapa guru terluka saat berlari. Kami sedang menilai situasinya dan apakah akan keluar lagi atau tidak,” imbuh Hayman.

Para dokter dan mahasiswa dengan jas lab putih melarikan diri ketika polisi melemparkan granat kejut di luar sekolah kedokteran di Yangon.

Gambar-gambar di media sosial menunjukkan darah di jalanan ketika orang-orang dibawa pergi oleh sesama pengunjuk rasa.

Terus membangkang

Para pengunjuk rasa terus membangkang, sebagian dari mereka membentuk barikade.

"Jika mereka mendorong kami, kami akan bangkit. Jika mereka menyerang kami, kami akan bertahan. Kami tak akan pernah berlutut pada sepatu militer," kata pengunjuk rasa, Nyan Win Shein, kepada Reuters.

Polisi juga menindak keras aksi besar-besaran di Mandalay, tempat polisi menggunakan meriam air dan menembakkannya ke udara.

Polisi menembakkan senjata ke udara, menjebak staf medis yang menggelar aksi protes di sebuah rumah sakit kota, kata seorang dokter di sana melalui telepon.

Kemarin, unjuk rasa besar-besaran di kota-kota seperti Yangon, Mandalay, dan Dawei masih berlanjut, meski ada tanggapan keras dari polisi.

Ada banyak laporan tentang korban jiwa, tetapi laporan itu sulit dikonfirmasi. Unjuk rasa juga berlanjut di tempat lain, termasuk kota Lashio di timur laut.

Sehari sebelumnya, pada Sabtu (27/2) polisi juga membubarkan demonstrasi dengan kekerasan di seluruh penjuru Myanmar.

Pemimpin junta militer Jenderal Min Aung Hlaing mengatakan, pihak berwenang telah menggunakan kekuatan minimal.

Rekaman kejadian hari Minggu yang disebar di media sosial menunjukkan para pengunjuk rasa melarikan diri ketika polisi merangsek ke arah mereka.

Penghalang jalan didirikan sementara, dan beberapa orang dibawa pergi dalam keadaan berlumuran darah.

Tindakan keras polisi yang dimulai dengan sungguh-sungguh pada hari Sabtu, diperpanjang seiring para pemimpin kudeta berusaha mengatasi kampanye pembangkangan sipil, sebagian besar berjalan damai, yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Satu aktivis bernama Esther Ze Naw mengatakan, orang-orang berjuang mengatasi ketakutan yang telah lama mereka alami.

"Ketakutan ini hanya akan tumbuh jika kita terus menjalaninya, dan orang-orang yang menciptakan rasa takut itu tahu itu. Jelas mereka mencoba menanamkan rasa takut pada kita dengan membuat kita lari dan bersembunyi. Kami tidak bisa menerima itu," tegasnya.

Adapun, jumlah penangkapan sejak unjuk rasa dimulai belum dikonfirmasi. Grup pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tawanan Politik menyebut angkanya 850, tetapi ratusan orang lain tampak telah ditangkap akhir pekan ini. (cnn/kopas.com/bbc)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved