Berita Semarang
Begini Kondisi Monumen Banjir Bandang Semarang, Tragedi Menewaskan 194 Orang Lebih
Monumen Banjir Bandang Semarang menjadi bukti bisu dari deretan peristiwa kelam akibat banjir di Kota Semarang.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: galih permadi
Kaligarang meluap ketingian 945 sentimeter dari dasar sungai.
"Banjir itu menjadi tragedi yang menjadi salah satu masa kelam di Kota Lunpia lantaran ratusan orang meninggal dalam sekejap," bebernya.
Dia berharap, andaikan monumen itu hilang paling tidak sejarah banjir bandang tak dilupakan.
Baginya yang juga bagian dari penyintas banjir bandang terbesar di Kota Semarang kejadian itu menjadi pembelajaran bersama terkait pentingnya menjaga alam dan mitigasi bencana.
"Baik warga asli Kota Semarang maupun siapa saja yang menetap di Kota Semarang seharusnya tahu terkait sejarah banjir bandang ini dan menjaga Kota Semarang secara bersama-sama," katanya.
Kendati demikian, dia menilai, tragedi banjir bandang Semarang 1990 mustahil akan kembali terjadi.
Menurutnya, kawasan Kota Semarang lebih tertata.
Daerah atas sudah dibangun waduk Jatibarang yang tentunya mengurangi debit air yang mengalir ke sungai di Semarang seperti Kaligarang dan Kali Semarang.
Sebelum dibangun waduk air yang masuk ke Bendung Simongan tercatat 1.000 liter perdetik.
Kini lebih rendah dengan jumlah maksimal 750 liter perdetik.
"Dalam banjir juga dikenal siklus 15 tahunan.
Hal itu pasti ada namun tak akan separah dahulu," katanya.
Dia mengatakan, lebih cenderung percaya dengan momen banjir 2 tahunan.
Pengamatan itu dilakukan sejak 2016.
Secara berkala dalam jeda 2 tahunan itu banjir seringkali melanda Kota Semarang, termasuk di tahun 2021.
"Saya mengamati seperti itu.
Ada titik elevasi ketinggian air yang persis terjadi di periodik waktu tersebut," tuturnya.
(Iwn)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/koordinator-pintu-air-bendung-simongan-bayu-wanapati-menunjukan-monumen-banjir-bandang-semarang.jpg)