Breaking News:

Berita Regional

Kisah Kampung Mati di Ponorogo, Berawal Pendirian Pesantren Tahun 1850 oleh Anak Ulama Demak

Namun sejak lima tahun terakhir, kampung tersebut sama sekali tidak berpenghuni. Seluruh warganya pindah hingga disebut kampung mati.

KOMPAS.COM/MUHLIS AL ALAWI
Salah satu rumah kosong yang ditinggal pemiliknya di Sumbulan, Desa Plalangan, Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo. (KOMPAS.COM/MUHLIS AL ALAWI) 

TRIBUNJATENG.COM, PONOROGO - Sebuah kampung mati di Kabupaten Ponorogo ramai diperbincangkan di media sosial.

Lokasi kampung mati tersebut di Dusun Krajan I, Dukuh Sumbulan, Desa Plalang, Kecamatan Jenangan, Ponorogo.

Kampung yang dikenal dengan nama Sembulan tersebut awalnya dihuni oleh 30 kepala keluarga.

Baca juga: Para Pria Rela Antre Beli Kopi Rp 100 Ribu di Warung, Minumnya di Kamar Bareng PSK Pantura

Baca juga: Cara Sumani Membunuh 4 Orang Keluarga Dalang Anom Rembang Mirip Penjagal Anjing

Baca juga: Jenazah Dimas Keluar dari Perut Buaya yang Dirobek, Warga Menangis Sejadi-jadinya

Baca juga: Kepala Sekolah Semakin Beringas Dengar Tangis Rintihan Siswinya: Jangan Pak! Jangan!

Namun sejak lima tahun terakhir, kampung tersebut sama sekali tidak berpenghuni.

Seluruh warganya pindah hingga disebut kampung mati.

Sumarno mengatakan mayoritas penyebab warga Kampung Sumbulan pindah karena akses jalan yang sulit.

Dibangun pondok pesantren pada tahun 1850

Sumarni salah satu mantan warga Kampung Sumbulan bercerita, pada tahun 1980 di kampung tersebut berdiri sebuah pondok pesantren. 

Pondok tersebut didirikan oleh Nyai Murtadho seorang anak ulama dari Demak.

Sejak saat itu, banyak warga yang datang dan belajar agama di pondok pesantren tersebut.

Halaman
1234
Editor: M Syofri Kurniawan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved