Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Kebakaran Pasar Induk Banjarnegara

Sopiah dan Para Pedagang Pasar Induk Banjarnegara Bercanda di Serambi Masjid, Tapi Matanya Sembab

Sopiah meronta. Ia menjerit sejadinya. Ia emosi karena penanganan yang dinilainya lamban. Hingga api menghanguskan seisi kiosnya

Penulis: khoirul muzaki | Editor: muslimah
tribunjateng/dok
ilustrasi kebakaran 

TRIBUNJATENG.COM,BANJARNEGARA - Kabar kebakaran di Pasar Induk Banjarnegara amat menyesakkan bagi Sopiah, pedagang sembako di pasar itu, Kamis (11/3/2021).

Ia yang sudah pulang pukul 15.00 WIB sampai melupakan letihnya berjualan seharian di pasar.

Perempuan asal Petambakan, Kecamatan Madukara itu sontak kembali ke pasar.

Ia tak tahu dimana titik nyala api. Lokasi pasar yang luas menyisakan harapan kiosnya tidak ikut terbakar.

Paling tidak, ia masih bisa menyelamatkan isi kiosnya sebelum api menjalar. 

Tetapi nahas, api sudah terlanjur menyebar.

Lidah api mulai menjilat rukonya yang berada di sisi utara timur pasar.

Sopiah meronta. Ia menjerit sejadinya.

Ia emosi karena penanganan yang dinilainya lamban.

Hingga api menghanguskan seisi kiosnya.

Saat ia sampai disana, ia belum melihat mobil pemadam datang.

“Ada mobil kesini tapi airnya tidak ada. Saya bilang cepat-cepat, tapi nanti-nanti.

Sudah kebakar semua di atas, tapi baru ada satu mobil di sini.

Kalau cepat-cepat mungkin gak sampai habis,”katanya

Kobaran api yang melahap kiosnya membuat hatinya ikut terbakar. Dadanya meletup.

Ia hancur melihat detik-detik tempat usahanya terbakar.

Usaha yang susah payah ia bangun puluhan tahun, sirna dalam sekejab.

Sopiah tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan dagangannya.

Petugas melarang pedagang masuk ke pasar untuk memertaruhkan nyawa.

Sopiah memilih menghindar, duduk di serambi masjid seberang pasar.

Api yang menyeramkan sudah jauh dari pandangan.

Di masjid itu, ia bersama para pedagang lain bernasib sama saling menguatkan.

Sesekali Sopiah dan korban lain melempar tawa.

Meski kesedihan terus melanda. Mata mereka sembab, setelah banyak air mata tercurah.

“Sesaknya sudah tadi,”katanya

Sopiah belajar mengikhlaskan. Sudah jelas ia kehilangan. Ratusan juta rupiah dipastikan melayang.

Padahal ia baru saja menyetok 4 ton beras di gudang tempat usahanya.

Bahan pangan itu kemungkinan besar tidak terselamatkan. Belum lagi jenis sembako lain yang memenuhi rukonya.

Sopiah yang telah habis-habisan hanya bisa berharap pemerintah turun tangan.

Ia berharap ada kompensasi untuk meringankan beban pedagang yang dilanda kerugian besar.

“Harapannya ada ganti rugi, karena semua ludes terbakar,”katanya . (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved