Breaking News:

Berita Internasional

Militer Myanmar yang Kabur Ke India Ini Sebut Ada Perintah Tembak Warga Sipil yang Melawan

Salah seorang tentara Myanmar yang jabur di India, Kyaw mengungkap kekerasan yang disebutnya diperintah oleh kelompok militer.

Editor: m nur huda
Kompas.com/Istimewa
Seorang polisi mengarahkan senjatanya ke orang-orang di Taunggyi, sebuah kota di Negara Bagian Shan, Myanmar, ketika pasukan keamanan terus menindak demonstran yang menentang kudeta militer, Minggu (28/2/2021). Sedikitnya 18 orang tewas dan 30 lainnya terluka dalam aksi demonstrasi di Myanmar pada 28 Februari, serta disebut sebagai hari paling berdarah dalam serentetan aksi protes menentang kudeta militer.(AFP/STR) 

TRIBUNJATENG.COM, NEW DELHI - Banyak anggota militer dan aparat Myanmar yang kabur dari negaraya dan bersembunyi di India.

Mereka kabur dengan alasan tak mau mengikuti perintah junta militer yang tak mengutamakan kekerasan.

Salah seorang tentara Myanmar yang jabur di India, Kyaw mengungkap kekerasan yang disebutnya diperintah oleh kelompok militer.

Kyaw menceritakan perintah tersebut samil gemetar dan mencengkeram kausnya.

Dia diminta menyakiti orang-orang di komunitasnya sendiri, perintah inilah yang mendorong pelariannya ke India.

Kyaw, yang namanya telah diubah untuk melindungi identitasnya, termasuk di antara 40 warga negara Myanmar, kebanyakan petugas polisi, yang ditemui AFP.

Baca juga: Myanmar Memanas, Sejumlah Pabrik China Dibakar, Perusahaan Taiwan Diminta Kibarkan Bendera

Baca juga: Mengaku Sebagai Sahabat, Myanmar Minta India Serahkan 8 Polisi yang Kabur & Minta Suaka

Baca juga: Lagi, 22 Demonstran Myanmar Tewas Tertembak, Kembali Catatkan Hari Berdarah Sejak Kudeta Militer

Baca juga: 17 Demonstan Lagi Tewas dalam Sehari, Militer Myanmar Tingkatkan Kekuatan Redam Aksi Protes

Mereka bersembunyi di lokasi yang dirahasiakan di negara bagian Mizoram di timur laut India.

Setidaknya 180 orang telah tewas di Myanmar sejak kudeta 1 Februari, menurut kelompok pemantau Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik.

Junta telah menindak demonstrasi demokrasi tanpa henti di seluruh negeri.

“Kekerasan itu menyebabkan lebih dari 300 warga Myanmar, banyak dari mereka petugas polisi dan keluarga mereka, serta dua personel militer, memasuki Mizoram,” kata seorang warga setempat yang membantu penyeberangan perbatasan kepada AFP, Senin (15/3/2021).

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved