Breaking News:

8 Demonstran Lagi Tewas Ditembak, Situasi di Myanmar Terus Mencekam

Tindakan brutal yang memakan korban jiwa itu dilakukan aparat keamanan Myanmar untuk membubarkan demonstran di kota pusat Aungban.

Editor: Vito
STR / AFP
Pengunjuk rasa bersembunyi di belakang barikade usai melemparkan dan bom molotov dan proyektil menggunakan ketapel ke arah pasukan keamanan dalam aksi protes terhadap kudeta militer di Yangon, Myanmar, Rabu (17/3). 

TRIBUNJATENG.COM, YANGON - Aparat keamanan Myanmar menembak mati delapan demonstran penentang kudeta militer pada Jumat (19/3).

Seperti dilansir Reuters, Jumat (19/3), militer dan polisi telah menggunakan taktik yang semakin brutal dan keras untuk menekan aksi demonstrasi oleh para pendukung pemimpin terpilih yang ditahan Aung San Suu Kyi.

Tindakan brutal yang memakan korban jiwa itu dilakukan aparat keamanan Myanmar untuk membubarkan demonstran di kota pusat Aungban, dan kemudian menembaki mereka ketika mencoba membersihkan barikade. Pasukan keamanan juga menggunakan gas air mata.

Aparat keamanan Myanmar juga kembali menangkap dua jurnalis, termasuk seorang wartawan BBC, kata media.

"Pasukan keamanan datang untuk membubarkan demonstran tetapi orang-orang menolak, dan mereka melepaskan tembakan," kata seorang saksi, yang menolak untuk diidentifikasi, melalui sambungan telepon.

Seorang pejabat layanan kematian di Aungban, yang menolak untuk diidentifikasi, mengatakan kepada Reuters, bahwa delapan orang tewas.

Dia menjelaskan, tujuh orang tewas di tempat, dan satu yang terluka dan akhirnya meninggal setelah dibawa ke rumah sakit di Kota Kalaw terdekat.

Juru bicara junta militer tidak berkomentar mengenai insiden tersebut, tetapi mengatakan pasukan keamanan telah menggunakan kekuatan hanya bila diperlukan. Para kritikus telah mencemooh penjelasan itu.

Jumlah total yang tewas dalam beberapa minggu ini telah meningkat menjadi setidaknya 232 orang, menurut laporan terbaru kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik.

Negara-negara Barat telah mengutuk kudeta dan menyerukan diakhirinya kekerasan, dan menuntut pembebasan pemimpin de-facto Aung San Suu Kyi.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved