Berita Internasional
WNI di AS Kian Waspada Merebaknya Sentimen Anti-Asia, Lebih Bahaya Dibanding Virus Corona
Stop Asian Hate terus dikampanyekan sebagai respons adanya aksi sentimen anti-Asia di Amerika Serikat hingga menimbulkan korban jiwa.
TRIBUNJATENG.COM - Stop Asian Hate terus dikampanyekan sebagai respons adanya aksi sentimen anti-Asia di Amerika Serikat hingga menimbulkan korban jiwa.
Bagaimana nasib WNI di negeri tersebut?
Robert Cratius, diaspora Indonesia berusia 40 tahun yang menetap di Philadelphia, kini merasa harus lebih waspada dibanding sebelum merebaknya pandemi.
Baca juga: Karena Ada Kelalaian, Kalina Oktarani Akui Dirinya hanya Nikah Siri dengan Vicky Prasetyo
Baca juga: Nia Ramadhani Kaget Lihat Hasil PCR Negatif, Sempat Kontak Erat dengan Kakak yang Positif Covid-19
Baca juga: Hasil Liga Italia Fiorentina vs AC Milan: Rossoneri Mengunci Tiga Poin di Kandang Lawan
Baca juga: Hasil Liga Italia, Juventus Kalah dari Benevento Setelah Blunder Arthur Melo
Bukan karena pandemi yang sudah menelan lebih dari 550.000 korban jiwa, tetapi karena virus lain yang lebih berbahaya, yaitu virus sentimen terhadap warga Asia.
“Kalau dibanding sebelum Covid-19, saya merasa harus lebih waspada,” ujar Robert ketika diwawancarai VOA, Jumat (19/3/2021) lalu.
Butet Luhcandradini, yang sudah 12 tahun tinggal di Amerika dan kini menetap di Silver Spring, Maryland, juga merasakan hal yang sama.
Butet mengaku pada dasarnya ia penakut dan sering khawatir jika mendengar insiden penembakan massal.
“Tapi sekarang jadi lebih menghindar lagi jalan sendiri malam-malam... atau pulang dari Metro (kereta api) ke parkiran jadi agak takut-takut,” ujarnya.
“Dulu yang meresahkan kalau ketemu tunawisma yang kumat. Sekarang lebih takut lagi karena persentase orang yang kena aksi kekerasan naik. Bukan hanya dari tunawisma,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Wulan Surgener, ibu satu putri yang sudah 15 tahun menetap di Charlottesville, Virginia, dan “jadi lebih khawatir ketika berada di tempat umum.”
Sama seperti Henny Kusumawati, yang sejak 2011 tinggal di Atlanta, Georgia, kota di mana insiden penembakan yang menewaskan delapan orang – termasuk enam perempuan Asia – terjadi Selasa lalu (16/3/2021).
"Terus terang perasaan saya bercampur. Yang terutama rasa sedih karena sejak awal saya menginjakkan kaki di sini, semua welcome, tidak pernah ada rasisme atau peristiwa apa pun."
"Bahkan ketika negara-negara bagian lain dilanda sentimen anti-Asia, di sini tidak terjadi apa-apa. Kok sekarang begini? Saya jadi waspada ke tempat-tempat yang saya tidak familiar,” ujarnya lirih.
Juga Daniel Fu, ayah dua anak yang sudah puluhan tahun menetap di Atlanta, Georgia.
“Atlanta sebenarnya tidak seperti New York atau tempat-tempat lain di Amerika. Atlanta itu tenang. Tapi dengan kejadian kemarin, saya jadi waswas karena ternyata orang dari negara atau bangsa tertentu ternyata bisa juga jadi target di sini,” paparnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/julie-tran-memegang-teleponnya-saat-menyalakan-lilin-di-garden-grove-california.jpg)