Impor Beras

Pemerintah Diminta Paparkan Data Produksi Beras dan Permintaannya Sebelum Impor Beras

Adanya rencana pemerintah untuk melakukan impor beras sebanyak satu juta ton, mendapatkan beragam tanggapan dari para petani di berbagai wilayah.

Penulis: Ruth Novita Lusiani | Editor: rival al manaf
TRIBUN JATENG/RIFQI GOZALI
Khaerudin (35) petani asal Desa Undaan Lor, kecamatan Undaan, Kudus membawa poster penolakan impor beras, Senin (15/1/2018). Sejumlah petani merasa khawatir jika impor tersebut berimbas pada turunnya harga gabah dari petani 

Penulis: Ruth Novita Lusiani

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Adanya rencana pemerintah untuk melakukan impor beras sebanyak satu juta ton, mendapatkan beragam tanggapan dari para petani di berbagai wilayah.

Satu di antara petani di Wonogiri, Sardi yang tergabung sebagai anggota dalam Kelompok Tani Lambang Sari, di desa Nambangan, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri berharap pemerintah harus mempertimbangkan betul hal ini.  

“Sebetulnya kalau dalam situasi seperti sekarang ini, petani itu susah mau berbuat bagaimana, yang pasti kalau akan mengadakan impor beras, pemerintah harus ada perhitungannya kira-kira di musim panen seperti sekarang ini ada angka di kisaran berapa untuk hasil panen se-Indonesia."

"Harusnya ada perhitungannya terlebih dahulu, sehingga kalaupun impor ya sesuai kebutuhan saja jangan sampai over, karena takutnya harga gabah petani yang jadi korbannya,” ujar Sardi ketika dihubungi Tribun Jateng, Rabu, (24/3/2021).

Ia pun mengatakan untuk di wilayahnya, saat ini sudah mulai memasuki musim panen sekira dua minggu yang lalu, dengan harga gabah kering yang saat ini sedang menurun di angka Rp 3.600 per kilogram hingga Rp 3.800 per kilogram. 

Dengan adanya kondisi ini, Sardi pun berharap harga saat ini dapat mengalami peningkatan kembali.

“Kami pastinya ingin harga gabah juga bisa naik karena melihat biaya produksi, biaya tenaga, obat-obatan hingga pupuk yang saat ini sedang naik juga."

"Di samping itu, saat ini penggunaan pupuk juga memiliki kendala karena sedang dibatasi dan tidak sesuai dengan yang dibutuhkan masyarakat petani. Oleh karena itu, kami pun berharap harga gabah ini bisa meningkat,” terangnya.

Adapun berkaca dari musim panen di tahun-tahun sebelumnya, Sardi mengatakan biasanya harga gabah akan cenderung mengalami peningkatan pada masa panen ketiga sekira bulan Oktober hingga November mendatang.

Baca juga: Mata Air Asin dan Bergas di Karanganyar Ramai Dikunjungi, Pemkab Karanganyar Lirik Potensi Wisata

Baca juga: Video Jumlah Pemakaman Korban Covid-19 di Semarang Turun Drastis

Baca juga: Kunci Jawaban Tema 7 Kelas 5 Halaman 141 142 144 147 148 Peristiwa dalam Kehidupan

 
Sementara itu ditanya terkait dengan stok hasil panen para anggota Kelompok Tani Lambang Sari, dikatakan Sardi stoknya aman, bahkan hingga mengalami surplus.  

Untuk hasil panen milik Sardi saja, dituturkannya selama masa panen ini telah mendapatkan hasil hingga 12 ton.

“Kami hanya bisa berharap, kalau misalkan ingin melakukan impor menyesuaikan kebutuhan di masyarakat saja, sehingga harga di petani bisa tetap stabil. Itu saja harapannya,” tandasnya. (Ute) 

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved