BPI Kemendes Dorong Unnes Tingkatkan Penelitian Pengembangan Potensi Desa
Kemendes dorong Unnes tingkatkan penelitian pengembangan potensi desa.
Penulis: m zaenal arifin | Editor: Daniel Ari Purnomo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sekretaris Badan Pengembangan dan Informasi (BPI), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), Razali AR mendorong perguruan tinggi agar meningkatkan kegiatan penelitian (riset), terutama berkaitan pengembangan potensi desa.
Dikatakannya, pengembangan potensi desa tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan perencanaan pembangunan, penyusunan kebijakan dan pengembangan daya saing. Agar ini berhasil, perlu peran akademisi termasuk perguruan tinggi.
Hal itu disampaikan Razali dalam webinar bertema "Penguatan Desa Mitra dalam Mendukung Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka", yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Semarang (Unnes) secara daring di Semarang, kemarin.
"Kita mendorong agar ada peningkatan riset, khususnya terkait dengan pengembangan potensi desa. Karena pengembangan potensi desa diperlukan peran perguruan tinggi," kata Razali, dalam keterangannya, Senin (5/4/2021).
Menurutnya, riset menjadi pengungkit yang signifikan dalam meningkatkan inovasi dan daya saing. Di satu sisi, berdasarkan data Global Innovation Index (2020), Indonesia masih berada di peringkat ke 85 dari 131 negara.
"Kalau melihat data tersebut, riset kita bisa dibilang masih rendah dan belum mendapat perhatian yang berkelanjutan, padahal riset ini diperlukan untuk mendukung pembangunan bangsa," ujarnya.
Saat ini, perguruan tinggi telah berlomba menjalankan program kampus merdeka. Yang mana dalam implementasinya, di antaranya melibatkan desa sebagai sasaran. Ia mencontohkan, program KKN tematik yang menempatkan mahasiswa di desa-desa, termasuk desa tertinggal dan transmigrasi.
Tak hanya itu saja, Razali mengungkapkan, pertukaran data dan informasi teknologi tepat guna dari perguruan tinggi, juga diperlukan guna menunjang pembangunan desa. Hal itu tak lepas dari pemakaian data hasil penelitian yang dilakukan civitas akademika.
"Melalui KKN misalnya, bisa dilakukan pelatihan kewirausahaan, pendampingan pengelolaan dan manajemen BUMD. termasuk juga pengelolaan sumber daya alam yang ada, sehingga mampu memberikan ide, gagasan dalam mengembangkan potensi yang ada di desa tersebut," tegasnya.
Sementara, Rektor Unnes, Fathur Rokhman memaparkan, di tahun 2020 lalu, Kemendikbud mencetuskan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM). Hal tersebut pun sudah diterapkan Unnes, di desa mitra kampus.
"Desa sebagai lokus dan fokus tri dharma perguruan tinggi. Hal ini sudah diimplementasikan dalam proyek kemanusiaan, kegiatan wirausaha, proyek independen dan KKN tematik. LP2M Unnes sudah memfasilitasi ini, namun perlu kerjasama dengan stakeholder lainnya. Perguruan tinggi, pemerintah, BUMN, swasta, masyarakat hingga media massa," terangnya.
Ditegaskan program MBKM memiliki kontribusi dalam mewujudkan beragam inovasi, yang dapat memberikan nilai tambah atau sustainable development goals (SDGs) bagi desa secara berkelanjutan.
"Unnes saat ini sudah bekerjasama dengan Pemkot Semarang, dalam mengurangi angka kemiskinan. Kita diberikan data daerah atau wilayah mana saja yang masuk kategori miskin, lalu bersama stakeholder lainnya termasuk BUMN dan swasta, kita lakukan pendampingan, untuk pengentasan kemiskinan," tandasnya.
Termasuk juga pengembangan desa binaan, melalui pengabdian masyarakat oleh dosen dan mahasiswa Unnes.
"Kita lakukan upaya peningkatan di bidang agrobisnis atau agro industri melalui inovasi yang dilakukan sehingga terbentuk desa swasembada, kemudian ada juga program desa mandiri dengan mendorong pengembangan agrowisata, desa swakarya dengan mengoptimalkan bidang kerajinan serta industri, hingga desa swadaya yang berfokus pada pertanian," jelas Fathur.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/fathur-rokhman-3.jpg)