Breaking News:

Opini

OPINI Mahasiswa: Toxic Masculinity Budaya Beracun di Kalangan Laki-Laki

Hal tersebut bukan hanya terjadi di kalangan wanita, namun juga di kalangan pria. Hal tersebut dikenal dengan istilah toxic masculinity.

Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
Isnandi Mahira Kurniadi | Mahasiswa Sastra Indonesia Unnes 

TRIBUNJATENG.COM - Bulan April merupakan momentum yang kita kenal sebagai bulan lahirnya emansipasi wanita. Namun, sayangnya di Indonesia kesetaraan gender masih belum dapat dirasakan dengan adil. Hal tersebut bukan hanya terjadi di kalangan wanita, namun juga di kalangan pria. Hal tersebut dikenal dengan istilah toxic masculinity.

Toxic masculinity atau maskulinitas beracun merupakan deskripsi sempit tentang kejantanan yang didefinisikan oleh kekerasan, jenis kelamin, status, dan agresi. Adanya pemikiran-pemikiran tentang sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan yang harus dimiliki oleh seorang pria yang mengangungkan kekuatan yang dimiliki, dan menanggap bahwa emosional yang dimiliki oleh pria dianggap sebagai sifat yang feminin.

Banyak sifat dan perilaku yang dianggap harus dimiliki dan rasa emosional yang tidak boleh ditunjukan oleh seorang pria. Adanya pemikiran yang mengharuskan bahwa pria harus pandai berolahraga, menunjukkan dominasi dan kekuasaan terhadap orang lain, tidak boleh melakukan aktivitas seperti memasak, menyapu, mengasuh anak yang dianggap hanya milik perempuan, serta adanya larangan pada pria untuk menangis.

Dalam sebuah penelitian oleh Silver (2018), terdapat empat hal umum terkait dengan konsep maskulinitas di masyarakat Amerika, antara lain: *) Lak-laki harus menghindari apapun yang bersifat feminine atau yang berhubungan dengan wanita. Contohnya, keengganan untuk melakukan aktivitas “rumahan” yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan, seperti memasak, berkebun, mengasuh anak, dan menyapu. *) Kewajiban laki-laki harus berjuang untuk sukses dan berprestasi. *) Laki-laki tidak diperbolehkan menunjukkan kelemahan dan dapat menyelesaikan masalahnya sendiri. *) Berjiwa petualang dan diharuskan untuk mengambil risiko sekalipun menggunakan kekerasan. Laki-laki dianggap perlu menunjukkan dominasi dan kekuasaan terhadap orang lain.

Dari contoh tersebut, maka pria justru akan menutup diri agar dirinya dapat diterima oleh masyarakat dan lingkungannya.

Tentunya adanya pemikiran-pemikiran toxic tersebut sangat berdampak pada kesehatan mental maupun berpengaruh pada kemampuan yang dimiliki oleh pria tersebut. Misalnya, pria yang mempunyai kemampuan untuk memasak atau kemampuan untuk merias, justru cenderung akan menyembunyikan kemampuannya tersebut untuk menghindari perilaku maupun cemoohan maskulinitas beracun dari orang lain.

Selain itu, toxic masculinity berpengaruh besar terhadap kesehatan mental maupun fisik kaum pria bahwa menahan emosi dapat menimbulkan kerentanan untuk mengalami depresi. Mereka akan menyembunyikan rasa sedih dan menangis yang dianggap sebagai karakteristik feminin yang hanya boleh dilakukan kaum wanita.

Norma Maskulin

Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa adanya pembatasan norma maskulin yang kaku dan sempit dapat memberikan efek terhadap laki-laki sebagai berikut. *) Tekanan psikologis yang lebih besar. Laki-laki terkadang merasa mereka perlu menyembunyikan atau menghindari pengekspresian emosi yang sedang mereka rasakan. Khususnya emosi dan perasaan yang berkaitan dengan kerentanan pribadi yang dianggap sebagai karakteristik feminine. *) Risiko depresi dan kecemasan yang lebih besar. Seperti yang diungkapkan sebelumnya. Menahan emosi menimbulkan kerentanan untuk mengalami depresi. *) Penyalahgunaan zat dan obat-obat terlarang. Laki-laki cenderung tidak mencari bantuan karena tidak ingin dianggap lemah.

Hal tersebut, terkadang membawa laki-laki untuk mencari coping mekanisme yang tidak sehat, seperti penyalahgunaan zat alkohol, hingga narkoba atau obat-obatan yang dilarang. *) Risiko terkena gangguan kesehatan, seperti meningkatnya tekanan darah tinggi. *) Masalah terkait hubungan dengan pasangan hingga terjadinya kekerasan. Toxic masculinity dapat menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga, karena sikap laki-laki yang berusaha mendominasi dan mengontrol pasangan, dengan ancaman berupa tindak kekerasan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved