Breaking News:

Opini

OPINI Mahasiswa: Toxic Masculinity Budaya Beracun di Kalangan Laki-Laki

Hal tersebut bukan hanya terjadi di kalangan wanita, namun juga di kalangan pria. Hal tersebut dikenal dengan istilah toxic masculinity.

Editor: iswidodo
tribunjateng/ist
Isnandi Mahira Kurniadi | Mahasiswa Sastra Indonesia Unnes 

Usia Harapan Hidup

Berdasarkan salah satu riset yang diselenggarakan oleh World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa rata-rata usia harapan hidup pria di dunia adalah 69 tahun, jauh lebih rendah dari wanita pada angka 74 tahun. Rendahnya harapan hidup ini dipengaruhi oleh banyak faktor. Selain tingkat bunuh diri, disebabkan juga oleh kerasnya lingkungan kerja para pria, dan risiko kesehatan pria yang lebih rentan karena konsumsi rokok dan alkohol.

Dilihat dari tingkat bunuh diri pada pria dan angka harapan hidup mereka, tanpa kita sadari penyebab utamanya adalah cara pandang masyarakat terkait dengan “siapa itu laki-laki” atau sering disebut juga dengan maskulinitas. Peran sosial laki-laki dimata masyarakat sering dianggap lebih tangguh dan kuat karena tuntutan sebagai tulang punggung keluarga. Menjadi seorang laki-laki harus terlihat dewasa, baik dalam perilaku maupun sifat.

Menghentikan toxic masculinity dan mengubah arti maskulinitas yang sempit di masyarakat tentu bukan hal mudah, karena hal tersebut merupakan nilai budaya yang sudah melekat sejak lama dan bahkan telah menjadi suatu keharusan.

Pengubahan sudut pandang mengenai maskulinitas dapat mulai dilakukan di lingkungan keluarga. Orang tua dapat memberikan pengertian kepada anaknya sejak kecil, khususnya anak laki-laki bahwa menangis atau bersedih bukanlah sebuah tindakan yang dilarang.

Orang tua juga harus mampu memberikan teladan untuk dapat menghargai perbedaan yang ada pada tiap individu serta mampu memberikan pengawasan terhadap media hiburan yang sifatnya mengarah kepada toxic masculinity.

Kita sebagai generasi muda juga harus dapat menghentikan dan mematahkan pemikiran-pemikiran beracun tentang maskulinitas yang sempit. Kita mempunyai andil yang besar dalam mengedukasi masyarakat khususnya anak-anak sebagai generasi selanjutnya. Bersedih dan menangis bukan berarti kita lemah. (*)
Ditulis oleh Isnandi Mahira Kurniadi | Mahasiswa Sastra Indonesia Unnes

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved