Kamis, 16 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Video

Video Menelusuri Jejak Kiai Sholeh Darat Ulama Besar di Semarang

Jejak ulama penting dalam penyiaran islam Nusantara asal Semarang yakni Kiai Sholeh Darat.

Penulis: iwan Arifianto | Editor: abduh imanulhaq

Mengingat, koleksi tersebut merupakan manuskrip kuno yang menjadi sumber rujukan utama.

Beberapa kitab di museum yang diresmikan pada 2006 itu tetap dilestarikan sebagai sarana masyarakat dalam mengembangkan pendidikan dan meningkatkan kecintaan terhadap sejarah dan peninggalan ulama di Jawa Tengah.

"Literasi ini sangat penting untuk selalu kami gaungkan baik itu pengetahuan agama maupun pengetahuan yang lainya," terangnya.

Tribunjateng.com selanjutnya menelusuri jejak Kiai Sholeh Darat ke peninggalan lainnya berupa Masjid Kiai Sholeh Darat yang berlokasi di Jalan Kakap Nomor 212, Dadapsari, Semarang Utara, Kota Semarang.

Ketua Takmir Masjid Kiai Soleh Darat, Chomsin Basri menjelaskan, jejak ulama besar Kiai Sholeh Darat memang masih dapat ditemukan di kompleks Masjid tersebut. 

Di antaranya makam petilasan sang Kiai, kitab, dan kentongan asli Masjid Kiai Sholeh Darat

"Peninggalan tersebut masih tersimpan baik hingga sekarang," jelasnya. 

Dia menyebut, Nama asli KH Muhammad Sholeh Darat bin Umar As-Samarani dan lebih dikenal sebagai Kiai Sholeh Darat

Kiai Sholeh Darat lahir di Kedung Jumbleng, Mayong, Kabupaten Jepara sekira tahun 1820.

Beliau anak dari seorang Pejuang KH Umar, ulama seperjuangan dengan Pangeran Diponegoro.

Berbeda dengan Ayahnya yang berjuang di medan laga, Kiai Sholeh Darat memilih berjuang lewat perjuangan literasi dengan menerbitkan karya-karya untuk mencerdaskan kaum pribumi. 

"Mbah Sholeh menerbitkan karya berbahasa Jawa tulisan arab pegon tujuanya untuk mudah dipahami kaum pribumi agar mengerti tatanan dan syariat Islam sehingga menolak gaya penjajahan," tuturnya. 

Dia menjelaskan, Sholeh muda belajar ke Makkah, di sana berguru dengan ulama besar di antaranya Syaikh Muhammad Almarqi, Syaikh Muhammad Sulaiman Hasballah, Syaikh Sayid Muhammad Zein Dahlan, dan lainnya. 

Sholeh darat tokoh besar Islam seangkatan dengan Syaikh Muhammad Nawani Al Jawi Al Bantani dan Kiai Kholil bin Abdul Latief atau Mbah Kholil Bangkalan.

Kiai Sholeh sempat hidup nyaman di sana lantaran sudah dapat mengajar di Makkah. 

Sumber: Tribun Jateng
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved